Dari Masjid Kampus hingga Krisis Identitas: Curhatan Jujur Mahasiswa Semester Awal yang Relate Banget

Menu Atas

Dari Masjid Kampus hingga Krisis Identitas: Curhatan Jujur Mahasiswa Semester Awal yang Relate Banget

Portal Andalas
Minggu, 04 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Di sela padatnya aktivitas perkuliahan, saya bersama mahasiswa lainnya melangkah cepat menuju masjid yang berada di samping gedung tempat kami belajar. Momen tersebut menjadi kesempatan yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus meredakan lelah setelah menjalani jadwal kuliah yang cukup menguras energi. Usai menunaikan salat dhuhur, terlihat beberapa mahasiswa memilih untuk duduk sejenak di teras masjid. Melihat suasana itu, saya pun mengurungkan niat untuk segera kembali ke kelas dan memutuskan bergabung, duduk di antara mahasiswa lain yang sebelumnya tidak saya kenal. Sebagai mahasiswa baru di semester awal, dunia perkuliahan telah menyuguhkan berbagai tantangan dan ujian. Proses penyesuaian diri dari kehidupan siswa SMA menuju mahasiswa menghadirkan beragam kejutan budaya yang tak terelakkan. Sarwono (1978) mendefinisikan mahasiswa sebagai individu yang secara resmi terdaftar di perguruan tinggi dengan rentang usia sekitar 18 hingga 30 tahun. Status ini tentu bukan sekadar label, melainkan sebuah identitas yang membawa tanggung jawab tertentu. Awalnya, saya memandang status mahasiswa sebagai simbol kebebasan—seorang pelajar yang tidak lagi terikat aturan seketat masa sekolah menengah. Di bangku SMA, tata tertib sekolah sering kali menjadi sorotan utama kehidupan siswa. Banyak dari kita mungkin masih mengingat pengalaman terjaring razia rambut atau kelengkapan seragam saat masih mengenakan seragam putih abu-abu. Namun, ironisnya, bagi sebagian pelajar di Indonesia, aturan-aturan tersebut justru tidak menimbulkan rasa jera. Meski telah berkali-kali disosialisasikan dan disertai contoh pelanggaran nyata, peraturan itu kerap dianggap sekadar bagian dari cerita hidup yang dijalani tanpa makna mendalam—sekadar mengikuti arus keadaan. Ingatan saya kemudian melayang pada masa-masa awal menapakkan kaki di Universitas Jember. Tidak sedikit mahasiswa baru yang merasakan tekanan batin akibat harus menjalani hidup secara mandiri, jauh dari keluarga. Rutinitas bangun pagi bahkan sebelum fajar sering kali dilalui dengan perasaan berat dan gelisah. Tentu kondisi tersebut tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Tata tertib di sekolah sejatinya dirancang untuk membentuk kedisiplinan serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, tertib, dan kondusif. Aturan-aturan itu berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter. Namun, seiring waktu, saya menyadari adanya perbedaan sosial yang cukup mencolok antara kehidupan mahasiswa dan siswa sekolah menengah. Fenomena tekanan psikologis bahkan depresi tidak hanya dialami oleh mahasiswa baru, tetapi juga oleh mereka yang telah berada di semester lanjut. Aaron T. Beck (1967) menjelaskan depresi sebagai kondisi yang ditandai dengan suasana hati negatif, pandangan diri yang buruk, kecenderungan menyalahkan diri, serta penurunan fungsi fisik. Ada mahasiswa yang mengawali PKKMB dengan datang terlambat. Meskipun keterlambatan tersebut tidak menimbulkan dampak serius terhadap reputasi, hal itu tetap dianggap sebagai permulaan yang kurang baik—terlebih karena hari pertama di kampus seharusnya dimulai dengan sikap disiplin. Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan penyampaian materi dasar mengenai kehidupan perkuliahan oleh seorang dosen yang hingga kini masih saya ingat dengan jelas. Beliau akrab disapa Pak Kendid, dosen dari program studi Pendidikan Fisika. Di tengah penjelasan materi, Pak Kendid membagikan pengalaman paginya sebelum masuk kelas. Ia bercerita tentang seorang mahasiswa yang harus dirawat karena jatuh sakit saat PKKMB. Mahasiswa tersebut mengaku belum sempat sarapan karena tidak terbiasa menyiapkan kebutuhan pagi hari secara mandiri. Kisah itu memunculkan berbagai reaksi dari mahasiswa di kelas, termasuk dari saya. Namun, dari cerita tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa mahasiswa tersebut mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Hal ini tidak lepas dari belum terbentuknya kemandirian adaptif pada mahasiswa baru saat menghadapi perubahan besar dalam hidup. Ketika seseorang terbiasa bergantung pada orang tua untuk memenuhi kebutuhan dasar—seperti menyiapkan sarapan—lalu harus mengelolanya sendiri, tubuh dan pikiran dapat merespons dengan stres yang cukup berat. Lalu, apakah kondisi ini memiliki kaitan dengan depresi? Mahasiswa kerap mengalami hambatan adaptasi karena perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Tuntutan akademik yang lebih tinggi, metode pembelajaran yang berbeda, serta tingkat kemandirian yang lebih besar dibandingkan jenjang sebelumnya menjadi tantangan tersendiri. Ditambah lagi dengan perbedaan budaya, latar belakang sosial, bahasa, dan kebiasaan, yang dapat memicu rasa asing dan canggung. Faktor psikologis seperti ketakutan akan kegagalan, rendahnya kepercayaan diri, rasa rindu rumah, serta tekanan membangun relasi sosial baru semakin memperberat proses penyesuaian diri. Ketika individu gagal menyesuaikan diri terhadap perubahan besar—baik di lingkungan pendidikan, pekerjaan, relasi, maupun peristiwa hidup lainnya—akumulasi stres emosional dapat menurunkan rasa percaya diri dan kendali diri. Kondisi ini sering kali melahirkan perasaan tidak berdaya, gagal, dan putus asa, yang apabila berlangsung lama dapat berkembang menjadi depresi. Sebaliknya, depresi juga memperburuk kemampuan adaptasi karena menurunkan energi, motivasi, serta fleksibilitas berpikir. Akibatnya, terbentuklah lingkaran masalah antara depresi dan kesulitan beradaptasi. Depresi bukanlah tanda kelemahan, melainkan kondisi kesehatan mental yang nyata dan dapat dialami oleh siapa saja. Krisis Identitas Permasalahan berikutnya muncul ketika mahasiswa mulai merasa kehilangan arah dan mempertanyakan tujuan hidup. Krisis identitas umumnya terjadi pada fase transisi penting, seperti dari remaja menuju dewasa, memasuki dunia perkuliahan, atau awal dunia kerja. Saya sendiri, sebagai mahasiswa S1, kerap merasakan kebingungan tersebut—bahkan sempat berpikir bahwa bekerja mungkin lebih tepat daripada melanjutkan kuliah. Perasaan ini ternyata juga dirasakan oleh banyak teman sekelas yang mengaku salah memilih jurusan. Pada minggu kedua perkuliahan, salah satu dosen saya—sebut saja Pak Rudi—menceritakan perjalanan hidupnya hingga meraih gelar doktor di Universitas Malang. Dari kisah tersebut, saya menyadari adanya perbedaan fase kehidupan antara beliau dan saya. Perbedaan utama bukan terletak pada kecerdasan atau bakat, melainkan pada tahapan hidup. Mahasiswa S1 berada pada fase eksplorasi: mencari jati diri, memahami dunia, dan mempertanyakan pilihan hidup. Sementara Pak Rudi telah berada pada fase konsolidasi—menemukan jalur, mendalaminya, dan memetik hasil dari konsistensi. Mereka yang tampak yakin hari ini pun pernah berada pada fase kebingungan yang sama, hanya saja proses itu jarang terlihat. Pemahaman inilah yang kemudian mengubah cara pandang saya terhadap perkuliahan. Saya menyadari bahwa makna kuliah tidak semata terletak pada gelar atau pekerjaan setelah lulus, melainkan pada proses pembentukan diri selama menjadi mahasiswa. Pada akhirnya, kuliah adalah bentuk investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung tampak, tetapi dampaknya dapat sangat menentukan di masa depan. Sebab hidup bukanlah tentang siapa yang paling cepat melangkah, melainkan siapa yang paling siap dan mampu bertahan. Selamat Menikmati Liburan Semester

Baca Juga