Bukan Cuma Tren! Cara Masak Kukus dan Rebus Ini Diprediksi Bertahan hingga 2026, Ini Alasannya

Menu Atas

Bukan Cuma Tren! Cara Masak Kukus dan Rebus Ini Diprediksi Bertahan hingga 2026, Ini Alasannya

Portal Andalas
Jumat, 02 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Tren mengolah makanan dengan cara dikukus dan direbus diperkirakan masih akan digemari hingga 2026. Metode ini kian populer seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat serta keinginan menjaga berat badan tetap ideal. Dokter spesialis gizi klinik, dr. Nathania Sheryl Sutisna, SpGK, menjelaskan bahwa teknik memasak kukus dan rebus merupakan pilihan yang lebih aman untuk menekan konsumsi lemak berlebih. Cara ini sangat cocok bagi mereka yang ingin mengontrol berat badan maupun menjaga kesehatan dalam jangka panjang. Ia menilai, masyarakat mulai memahami bahwa makanan yang diolah dengan cara digoreng—terutama melalui teknik deep frying—mengandung kalori jauh lebih tinggi dibandingkan makanan yang dikukus atau direbus. Kukus dan Rebus Tak Cukup Tanpa Gizi Seimbang Meski dikenal lebih sehat, dr. Nathania mengingatkan bahwa metode kukus dan rebus sering kali disalahartikan. Tidak sedikit orang mengira cukup mengonsumsi makanan seperti ubi, singkong, atau kentang rebus saja untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian. “Padahal, bahan makanan tersebut sebagian besar hanya mengandung karbohidrat. Jika dikonsumsi tanpa pendamping lain, nilai gizinya belum seimbang,” terangnya. Agar manfaatnya optimal, makanan kukus dan rebus sebaiknya dipadukan dengan sumber protein, seperti telur, ikan, ayam tanpa kulit, tahu, atau tempe. “Kalau makan ubi, idealnya ditambah telur rebus atau protein lainnya. Jadi yang diperhatikan bukan hanya teknik memasaknya, tetapi juga komposisi gizinya,” jelas dr. Nathania. Lebih Efisien Menjaga Berat Badan Dari sudut pandang pengendalian berat badan, metode kukus dan rebus dinilai jauh lebih efektif dibandingkan menggoreng. Proses penggorengan membuat makanan menyerap minyak, sehingga kandungan kalorinya melonjak meskipun porsinya terlihat sama. “Kalau digoreng, kalorinya bisa meningkat hingga 40 persen. Minyak akan terserap ke dalam makanan, terlebih jika digoreng dengan metode celup penuh,” paparnya. Kondisi inilah yang membuat gorengan menjadi salah satu sumber kalori tersembunyi terbesar dalam menu harian masyarakat. Penutup: Sehat Bukan Hanya Cara Masak dr. Nathania menegaskan bahwa tren memasak dengan metode kukus dan rebus tetap relevan hingga 2026, asalkan diterapkan secara tepat. Pola makan sehat tidak hanya bergantung pada teknik memasak, tetapi juga pada keseimbangan kandungan gizi di dalamnya. Dengan mengombinasikan karbohidrat, protein, sayuran, dan buah-buahan, serta memilih metode memasak rendah lemak, masyarakat dapat lebih mudah menjaga berat badan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan secara menyeluruh.

Baca Juga