Bupati Kerinci Monadi menyatakan bahwa anjloknya harga kayu manis di Kabupaten Kerinci saat ini tidak sepenuhnya dipicu oleh mekanisme pasar. Menurutnya, kondisi tersebut lebih disebabkan belum diterapkannya standarisasi nasional secara optimal dalam proses produksi kayu manis Kerinci (Korintje).
Pernyataan itu disampaikan Monadi saat menghadiri Gathering Media Mitra Pemerintah Kabupaten Kerinci yang berlangsung di Aula Villa Weloza, Bukit Tengah, Siulak, Rabu (24/12/2025).
Ia menjelaskan, kayu manis Kerinci sejatinya merupakan komoditas unggulan bernilai premium yang telah menembus pasar ekspor internasional. Namun, ketiadaan standar produksi yang jelas membuat harga jualnya rendah dan daya saingnya menurun. Monadi menegaskan bahwa potensi ekonomi kayu manis Kerinci sangat besar dan telah memiliki nama di pasar global, tetapi membutuhkan penanganan serius dari hulu hingga hilir, khususnya dalam penerapan standar nasional di tingkat petani.
Lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Kerinci berkomitmen mendorong pengembangan standarisasi produksi, peningkatan mutu pascapanen, serta penguatan hilirisasi industri kayu manis agar mampu menciptakan nilai tambah bagi petani dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Monadi, apabila standarisasi dan hilirisasi dapat diterapkan secara optimal, harga kayu manis akan terdongkrak, kesejahteraan petani meningkat, dan posisi Kerinci sebagai salah satu pusat kayu manis dunia akan semakin kokoh.
