Sahabat Saya Hidup Sehat, Tapi Kanker Datang Mendadak: Ternyata Ini Penjelasannya

Menu Atas

Sahabat Saya Hidup Sehat, Tapi Kanker Datang Mendadak: Ternyata Ini Penjelasannya

Portal Andalas
Jumat, 24 April 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Pada dasarnya, tulisan ini lahir dari kegelisahan pribadi setelah kepergian seorang sahabat akibat kanker darah atau leukimia. Ia dikenal memiliki gaya hidup cukup sehat dan tidak mempunyai riwayat penyakit berat sebelumnya. Namun, kurang dari dua minggu sejak gejala pertama muncul, dan bahkan belum genap satu minggu setelah diagnosis ditegakkan, ia meninggal dunia. Dari situlah muncul pertanyaan yang mungkin juga dirasakan banyak orang: **mengapa kanker bisa menyerang seseorang yang hidup sehat?** Sebagian orang mungkin menjawabnya dengan satu kata: **takdir**. Dan memang, pada akhirnya itu bisa menjadi jawaban yang paling sederhana. Namun sebelum sampai ke sana, ada baiknya melihat bagaimana kemungkinan tersebut dapat dijelaskan melalui sudut pandang biologi dan fisika. Sebagai makhluk hidup, tubuh manusia terus melakukan perbaikan diri setiap saat, termasuk pada tingkat sel. Sel-sel yang rusak akan diperbarui melalui proses regenerasi, yang melibatkan penyalinan DNA. Dalam proses penyalinan ini, terdapat kemungkinan terjadinya kesalahan atau mutasi. Mutasi inilah yang dalam kondisi tertentu dapat memicu munculnya sel kanker. DNA sendiri tersusun dari empat jenis basa nitrogen, yaitu Adenin (A), Timin (T), Guanin (G), dan Sitosin (C). Dalam kondisi normal, Adenin akan selalu berpasangan dengan Timin, sementara Guanin berpasangan dengan Sitosin. Pasangan ini terbentuk karena adanya ikatan hidrogen yang menahan keduanya tetap terhubung. Di sinilah ilmu fisika mulai berperan. Inti atom hidrogen, yaitu proton, termasuk partikel yang berada dalam skala sangat kecil sehingga perilakunya mengikuti hukum mekanika kuantum. Dalam fisika, benda dapat menunjukkan sifat sebagai partikel maupun gelombang. Objek berukuran besar seperti meja, kursi, atau benda sehari-hari cenderung berperilaku seperti partikel: mudah diamati, diukur, dan diprediksi. Sebaliknya, partikel yang sangat kecil seperti proton bisa menunjukkan sifat seperti gelombang. Dunia ini dikenal sebagai dunia kuantum, yang memiliki perilaku berbeda dari pengalaman sehari-hari dan sering kali terasa tidak intuitif. Salah satu fenomena kuantum yang terkenal adalah **quantum tunneling** atau terowongan kuantum. Dalam fenomena ini, partikel memiliki kemungkinan “menembus” hambatan yang secara logika biasa seharusnya tidak bisa dilewati. Fenomena semacam ini diduga juga dapat terjadi pada tubuh manusia, khususnya pada proton dalam ikatan hidrogen DNA. Jika proton berpindah posisi karena quantum tunneling, pasangan basa DNA bisa menjadi keliru. Akibatnya, Adenin yang semestinya berpasangan dengan Timin bisa saja salah berpasangan dengan Sitosin, atau Timin berpasangan dengan Guanin. Kesalahan pasangan ini dapat menghasilkan kode protein yang tidak semestinya. Inilah yang disebut mutasi genetik, salah satu awal mula terbentuknya kanker, walaupun tentu tidak semua mutasi akan berkembang menjadi kanker. Perlu dipahami bahwa quantum tunneling di tubuh manusia adalah peristiwa acak dengan peluang sangat kecil. Tidak bisa diprediksi, dan tidak bisa dicegah secara langsung. Namun secara teori, kemungkinan itu tetap ada. Ini menjelaskan mengapa seseorang dengan gaya hidup sehat pun masih dapat terserang kanker. Tetapi, mengapa hal itu terjadi pada sahabat saya? Pertanyaan itu mungkin tak akan pernah benar-benar terjawab. Meski begitu, peristiwa tersebut memberi pelajaran penting. Jika seseorang yang hidup sehat saja masih memiliki kemungkinan terkena kanker karena faktor biologis dan fisika yang sangat kecil peluangnya, maka menjalani pola hidup buruk secara sengaja sama saja dengan menambah risiko secara sadar. Contohnya merokok. Kandungan tar dan zat karsinogenik dalam rokok dapat merusak DNA melalui proses kimia yang jauh lebih nyata dan terukur. Risiko dari paparan seperti ini jauh lebih jelas dibanding kemungkinan mutasi acak. Karena itu, bila seseorang ingin menurunkan risiko kanker, maka menjalani pola hidup sehat—atau setidaknya menghindari zat karsinogenik—menjadi langkah yang sangat penting dan sulit ditawar.

Baca Juga