Portalandalas.com - Beberapa pola pengasuhan justru dapat meninggalkan luka emosional, membentuk cara berkomunikasi yang tidak sehat, atau menanamkan perilaku yang terbawa hingga anak dewasa. Kondisi seperti ini sering disebut sebagai **pola asuh toxic**.
Menurut para ahli, sikap toxic pada orangtua bisa muncul secara halus maupun terang-terangan. Hal yang membuatnya sulit dikenali adalah karena perilaku tersebut sering terjadi di tempat yang seharusnya paling aman bagi anak, yaitu rumah.
Berikut lima tanda orangtua toxic yang penting untuk dikenali.
## 1. Menghindari Tanggung Jawab
Salah satu ciri paling umum dari orangtua toxic adalah enggan mengakui kesalahan atau bertanggung jawab atas tindakannya.
Sean Abraham, pekerja sosial klinis berlisensi di Grow Therapy, menjelaskan bahwa orangtua toxic hampir tidak pernah meminta maaf, bahkan saat jelas melakukan kesalahan.
Menurut Christina McWalter Granahan, hal ini sering terjadi karena rendahnya kesadaran diri. Alih-alih mengakui kesalahan, mereka justru melemparkan tanggung jawab kepada anak.
Dalam jangka panjang, anak bisa tumbuh dengan perasaan selalu salah dan meragukan pandangannya sendiri.
## 2. Tidak Menghormati Batasan Anak
Batasan pribadi sangat penting dalam hubungan sehat, termasuk hubungan orangtua dan anak.
Namun, Melissa Wells menjelaskan bahwa orangtua toxic biasanya memiliki batasan yang buruk dan sulit menghormati batasan milik anak.
Contohnya seperti ingin mengetahui seluruh aspek kehidupan anak, mengambil keputusan sepihak, hingga ikut campur dalam urusan pribadi anak yang sudah dewasa.
Jika ini terjadi terus-menerus, anak akan merasa tidak memiliki ruang untuk tumbuh sebagai individu yang mandiri.
## 3. Menggunakan Manipulasi Emosional
Menurut Abraham, orangtua toxic sering kali tidak menyampaikan kebutuhan secara jujur dan langsung.
Sebaliknya, mereka memakai cara manipulatif seperti **gaslighting**, membuat rasa bersalah, atau mendiamkan anak (**silent treatment**) demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Misalnya, ketika anak sibuk dan tidak bisa datang berkunjung, mereka berkata, “Masa tidak bisa luangkan 10 menit saja?”
Atau mereka sengaja tidak membalas pesan selama berhari-hari sebagai bentuk hukuman.
Pola seperti ini dapat membuat anak merasa bersalah, takut mengecewakan, dan menomorduakan kebutuhannya sendiri.
## 4. Terlalu Berpusat pada Diri Sendiri
Granahan menjelaskan bahwa orangtua toxic cenderung membuat segala hal kembali berfokus pada diri mereka.
Saat anak menceritakan masalah atau pencapaiannya, perhatian justru dialihkan ke pengalaman sang orangtua.
Misalnya, ketika anak mengaku lelah bekerja, orangtua menjawab, “Dulu Ibu lebih capek dari itu.”
Atau saat anak mendapat promosi, orangtua malah sibuk menceritakan keberhasilannya di masa lalu.
Perilaku ini bisa membuat anak merasa tidak didengar dan emosinya tidak dianggap penting.
## 5. Membebankan Peran Orang Dewasa kepada Anak (Parentification)
**Parentification** adalah kondisi ketika anak dipaksa mengambil peran orang dewasa dalam keluarga.
Granahan menyebut orangtua toxic sering memberikan tanggung jawab yang tidak sesuai usia anak.
Contohnya meminta anak mengurus adik, menjadi tempat curhat masalah rumah tangga, atau memikul beban emosional yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa.
Akibatnya, anak bisa tumbuh dengan kebiasaan merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, sulit berkata tidak, dan mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.
## Penutup
Mengenali tanda-tanda orangtua toxic bukan berarti mencari siapa yang salah. Tujuannya adalah memahami pola hubungan yang mungkin menimbulkan luka emosional sejak kecil.
Dengan kesadaran tersebut, seseorang bisa mulai membangun batasan yang sehat, memulihkan diri, dan menciptakan hubungan yang lebih baik di masa depan.

