Portalandalas.com - Jalan Jambi–Mendalo kini dinilai bukan lagi sekadar titik kemacetan biasa. Kondisi lalu lintas di ruas tersebut disebut telah memasuki fase krisis setelah data tahun 2026 menunjukkan volume kendaraan jauh melebihi kapasitas jalan yang tersedia.
Azizul menyebut kawasan Mendalo saat ini sudah berada pada kondisi darurat lalu lintas. Menurutnya, data tahun 2026 memperlihatkan jumlah kendaraan pada jam sibuk mencapai sekitar 3.500 smp/jam, sementara kapasitas ideal jalan hanya 1.512 smp/jam. Artinya, beban jalan telah melampaui lebih dari dua kali kemampuan normalnya.
Berdasarkan angka itu, derajat kejenuhan atau rasio volume terhadap kapasitas (V/C ratio) tercatat sebesar 2,31. Nilai tersebut menempatkan ruas Jalan Jambi–Mendalo pada kategori Level of Service F, yaitu tingkat pelayanan terburuk dalam penilaian kinerja jalan. Status ini menunjukkan arus lalu lintas telah gagal berfungsi secara normal.
Azizul menjelaskan bahwa kondisi tersebut ditandai dengan arus kendaraan yang tidak stabil, kemacetan berat hampir sepanjang waktu, serta tingkat keselamatan yang sangat rendah.
Hal yang menjadi sorotan, jalan ini berada di kawasan pendidikan yang setiap hari dipadati aktivitas mahasiswa dan masyarakat umum. Namun di saat bersamaan, jalur tersebut juga dilalui ribuan truk batu bara setiap harinya.
Menurut Azizul, kondisi itu sangat ironis karena jalan publik yang seharusnya aman justru dipaksa menampung kepentingan industri, sehingga warga dan mahasiswa harus berbagi ruang dengan kendaraan berat.
Ia menilai persoalan ini tidak lagi sekadar isu teknis transportasi, melainkan cerminan ketimpangan kebijakan pemerintah daerah. Dalam pandangannya, keselamatan masyarakat seolah ditempatkan di urutan kedua.
Azizul juga menyoroti lemahnya respons pemerintah daerah, khususnya kepala daerah, terhadap situasi yang terus memburuk. Ia menyebut status “gagal” atau LOS F bukan hanya istilah teknis, tetapi alarm keras bahwa ada persoalan serius dalam pengelolaan transportasi di wilayah tersebut.
Menurutnya, solusi yang diperlukan sebenarnya sudah jelas dan tidak boleh terus ditunda. Ia mendesak agar dua langkah utama segera diwujudkan, yakni pembangunan jalan khusus angkutan batu bara serta pelebaran Jalan Mendalo.
Ia menegaskan, selama truk batu bara masih bercampur dengan kendaraan umum, risiko kecelakaan akan terus menghantui pengguna jalan. Baginya, langkah ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Azizul menutup pernyataannya dengan kritik tajam kepada para pengambil kebijakan. Ia mempertanyakan jika keselamatan hanya dijadikan slogan, maka siapa sebenarnya yang sedang dilindungi, dan berapa banyak lagi korban yang harus jatuh demi kelancaran industri.

