Portalandalas.com - Banyak orang merasa sudah menjalani pola hidup sehat, namun tanpa disadari, sejumlah kebiasaan yang terlihat “aman” justru bisa memberi beban berlebih pada ginjal.
Ironisnya, pilihan yang dianggap baik bagi tubuh ini justru berpotensi merusak fungsi ginjal, bahkan memperburuk kondisi pada penderita penyakit ginjal kronis.
5 Kebiasaan “Sehat” yang Ternyata Berisiko Merusak Ginjal
1. Konsumsi protein berlebihan
Asupan protein yang terlalu tinggi sering dianggap baik untuk kebugaran, terutama bagi mereka yang rutin olahraga dan mengonsumsi protein shake atau suplemen. Padahal, kelebihan protein justru membuat ginjal bekerja ekstra keras.
Urolog David Shusterman menegaskan bahwa makan protein dua hingga tiga kali lipat dari kebutuhan harian tidak mempercepat pembentukan otot, tetapi justru membebani ginjal karena harus menyaring lebih banyak sisa metabolisme dalam darah.
Pola makan tinggi protein juga dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis (CKD) akibat kerja ginjal yang terus dipaksa berat dalam jangka panjang.
Nefrolog Tim Pflederer menambahkan, protein hewani lebih berat diproses ginjal dibanding protein nabati, terutama bagi orang yang sudah memiliki gangguan ginjal.
Sebagai langkah aman, asupan protein sebaiknya diseimbangkan dengan sumber nabati seperti kacang-kacangan, kedelai, dan biji-bijian utuh.
2. Konsumsi suplemen tertentu
Tren suplemen kesehatan semakin meningkat dan sering dianggap wajib untuk menunjang kesehatan. Namun, beberapa jenis suplemen, terutama dalam dosis tinggi, justru berisiko merusak ginjal.
Beberapa kandungan tertentu bahkan berbahaya bagi penderita CKD, seperti vitamin D. Menurut HaVy Ngo-Hamilton, PharmD, vitamin D dapat berinteraksi dengan obat pengikat fosfat yang mengandung aluminium, sehingga meningkatkan kadar aluminium berbahaya dalam tubuh.
Selain itu, suplemen kalium dan obat herbal yang mengandung kalium tersembunyi juga berisiko menyebabkan penumpukan kalium dalam darah, yang sangat berbahaya bagi ginjal.
Karena itu, konsumsi suplemen sebaiknya selalu dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.
3. Minum teh detoks
Teh detoks sering dipercaya mampu membersihkan racun dan membantu menurunkan berat badan, meski bukti ilmiahnya sangat terbatas.
Shusterman justru memperingatkan bahwa teh detoks bisa membahayakan ginjal. Efek diuretiknya meningkatkan produksi urine sehingga memicu dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit—dua kondisi yang memberi tekanan besar pada ginjal.
Selain itu, kandungan herbal seperti licorice root, St. John’s wort, dan daun senna yang sering terdapat dalam teh detoks juga berpotensi merusak ginjal.
Menurut Shusterman, ginjal sebenarnya sudah merupakan sistem detoks alami tubuh. Yang dibutuhkan hanyalah dukungan berupa pola makan sehat, serat cukup, dan hidrasi yang seimbang—bukan tren detoks instan.
4. Minum air secara berlebihan
Hidrasi memang penting, tetapi minum air terlalu banyak dalam waktu singkat juga berbahaya. Ginjal hanya mampu memproses sekitar 0,8–1 liter air per jam.
Jika asupan air melebihi kemampuan filtrasi ginjal, kadar natrium dalam darah bisa turun drastis, menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dalam sel. Kondisi ini bisa memicu pembengkakan jaringan, termasuk pada otak, yang berpotensi menimbulkan gejala serius bahkan mengancam nyawa dalam kasus ekstrem.
Karena itu, minumlah sesuai rasa haus dan perhatikan warna urine. Warna kuning pucat menandakan hidrasi yang cukup dan seimbang.
5. Terlalu sering mengonsumsi obat NSAID
Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen sering digunakan untuk meredakan nyeri dan demam. Namun, penggunaan terlalu sering dapat menghambat aliran darah ke ginjal dan mengganggu proses penyaringan darah.
Ahli nyeri Thomas Pontinen menyebutkan bahwa NSAID dapat menurunkan fungsi ginjal secara perlahan, bahkan jika dikonsumsi rutin dalam dosis rendah.
Risiko ini semakin besar seiring bertambahnya usia, terutama jika disertai dehidrasi, tekanan darah tinggi, atau masalah kesehatan lain.
Sebagai alternatif, penggunaan pereda nyeri sebaiknya dibatasi hanya saat benar-benar diperlukan. Untuk keluhan ringan, cukup lakukan peregangan, istirahat cukup, kompres hangat atau dingin, dan cukupi cairan tubuh.

