Portalandalas.com - Memasuki satu tahun kepemimpinan pasangan Alfin–Azhar, gelombang evaluasi dari berbagai kalangan masyarakat mulai menguat. Harapan besar yang dulu digaungkan saat masa kampanye kini dinilai belum berbanding lurus dengan realitas di lapangan. Sejumlah persoalan mendasar yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga masih belum menunjukkan penyelesaian yang jelas, bahkan sebagian justru dianggap semakin kompleks.
Berbagai kritik muncul dari tokoh masyarakat, pengamat kebijakan publik, hingga aktivis sosial. Mereka menilai bahwa dalam satu tahun terakhir, arah pembangunan belum mampu menghadirkan perubahan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.
Harapan Kesejahteraan yang Belum Terwujud
Sejak awal menjabat, pasangan Alfin–Azhar membawa narasi perubahan dan kemajuan. Namun, sebagian masyarakat merasa janji tersebut masih jauh dari kenyataan. Indikator kesejahteraan yang diharapkan meningkat belum dirasakan secara merata.
Keluhan terkait ekonomi masyarakat kecil, lapangan pekerjaan, serta pelayanan publik masih sering terdengar. Banyak warga menilai bahwa pemerintah daerah belum mampu menghadirkan kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Seorang warga yang ditemui mengatakan bahwa kondisi saat ini tidak jauh berbeda dibanding sebelumnya. “Kami berharap ada perubahan nyata, tapi sampai sekarang belum terasa,” ujarnya.
Parkir Sembaraut dan Dugaan Pungli
Salah satu persoalan yang paling sering dikeluhkan adalah tata kelola parkir yang dinilai semakin semrawut. Di sejumlah titik pusat keramaian, parkir kendaraan tidak tertata dengan baik sehingga menimbulkan kemacetan dan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan.
Tidak hanya itu, praktik pungutan liar atau pungli juga masih menjadi sorotan. Masyarakat mengaku kerap diminta membayar tarif parkir yang tidak jelas dasar aturannya. Kondisi ini menimbulkan kesan lemahnya pengawasan serta belum optimalnya penataan sektor parkir oleh pemerintah daerah.
Pengamat kebijakan publik menilai bahwa persoalan parkir seharusnya menjadi masalah teknis yang bisa diselesaikan dengan cepat jika ada keseriusan dan sistem yang jelas.
Manajemen RSU M.A. Thalib Jadi Sorotan
Kisruh manajemen di Rumah Sakit Umum M.A. Thalib baru-baru ini turut memperkeruh penilaian publik terhadap kinerja pemerintah daerah. Permasalahan internal rumah sakit yang sempat viral di media sosial memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan.
Beberapa keluhan yang mencuat antara lain terkait pelayanan pasien, manajemen internal, hingga koordinasi yang dinilai tidak berjalan baik. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan mengingat rumah sakit merupakan fasilitas vital bagi masyarakat.
Pengamat kesehatan menyebut bahwa persoalan di rumah sakit tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut keselamatan dan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan pemerintah.
Masalah Sampah Tak Kunjung Tuntas
Persoalan klasik yang hingga kini belum terselesaikan adalah pengelolaan sampah. Di berbagai sudut kota, tumpukan sampah masih mudah ditemukan dan menimbulkan keluhan warga.
Selain merusak pemandangan, kondisi ini juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan. Warga menilai bahwa hingga satu tahun kepemimpinan berjalan, belum ada terobosan nyata yang mampu mengatasi persoalan ini secara sistematis.
Beberapa aktivis lingkungan menilai bahwa pemerintah daerah perlu memiliki strategi pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, mulai dari pengurangan, pengangkutan, hingga pengolahan akhir.
Tumpukan Persoalan Lain yang Mengemuka
Selain tiga isu utama tersebut, berbagai persoalan lain juga menjadi catatan masyarakat. Mulai dari pelayanan publik yang dinilai belum maksimal, koordinasi antarinstansi yang masih lemah, hingga komunikasi pemerintah yang dianggap kurang terbuka.
Kritik yang muncul menunjukkan bahwa masyarakat berharap adanya percepatan perbaikan di berbagai sektor. Mereka menilai satu tahun adalah waktu yang cukup untuk menunjukkan arah perubahan yang jelas.
Kritik Keras Aktivis
Seorang aktivis lokal menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi saat ini. Ia menilai narasi kemajuan yang sering disampaikan pemerintah belum sesuai dengan realita di lapangan.
“Kalau ini disebut MAJU, maka standar kita memang sedang diturunkan,” ujarnya tegas.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan sebagian masyarakat yang merasa ekspektasi mereka belum terjawab. Kritik ini juga menjadi pengingat bahwa pemerintah perlu lebih responsif terhadap kondisi riil yang dirasakan warga.
Pemerintah Diharapkan Lebih Responsif
Berbagai kalangan berharap kritik yang muncul tidak dipandang sebagai serangan, melainkan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kinerja pemerintahan ke depan. Transparansi, komunikasi yang baik, serta langkah konkret dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik.
Para pengamat menilai bahwa tahun kedua kepemimpinan akan menjadi momentum penting bagi pasangan Alfin–Azhar untuk membuktikan komitmen mereka dalam menyelesaikan persoalan yang ada.
Antara Harapan dan Tantangan
Satu tahun pertama pemerintahan memang sering dianggap sebagai fase adaptasi. Namun, masyarakat tetap menuntut adanya arah kebijakan yang jelas dan hasil nyata yang bisa dirasakan.
Jika berbagai persoalan mendasar seperti parkir, pungli, pelayanan kesehatan, dan sampah tidak segera ditangani, maka kepercayaan publik bisa semakin menurun. Sebaliknya, jika pemerintah mampu menghadirkan solusi konkret, peluang untuk membangun kembali optimisme masyarakat masih terbuka lebar.
Pada akhirnya, perjalanan kepemimpinan tidak hanya diukur dari program yang direncanakan, tetapi dari seberapa besar dampaknya bagi masyarakat. Evaluasi satu tahun ini menjadi cermin penting untuk melihat sejauh mana janji perubahan telah diwujudkan.

