Dibangun dengan Anggaran Besar, TPS3R di Sungai Penuh Dinilai Nyaris Tidak Berjalan: Janji Tinggal Janji! Proyek Sampah Era Wali Kota Kini Nyaris Tak Berfungsi

Menu Atas

Dibangun dengan Anggaran Besar, TPS3R di Sungai Penuh Dinilai Nyaris Tidak Berjalan: Janji Tinggal Janji! Proyek Sampah Era Wali Kota Kini Nyaris Tak Berfungsi

Portal Andalas
Sabtu, 21 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Program Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) baik skala desa maupun kawasan di Kota Sungai Penuh yang sebelumnya diharapkan menjadi solusi persoalan sampah, kini justru disebut hampir tidak berfungsi. Situasi ini memicu kritik terhadap kinerja Dinas Lingkungan Hidup Kota Sungai Penuh sebagai pihak teknis yang bertanggung jawab. Berdasarkan informasi yang diperoleh, pembangunan TPS3R tersebut menghabiskan anggaran yang diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Dana itu digunakan untuk pembelian lahan, pengadaan mesin pengolahan sampah, serta berbagai sarana penunjang operasional lainnya. Namun kenyataannya di lapangan, fungsi pengolahan sampah dinilai belum berjalan sebagaimana mestinya. Sampah Diduga Hanya Dipindahkan Tanpa Proses Pengolahan Dari hasil pemantauan dan dokumentasi serta informasi yang diterima redaksi, dalam sekitar satu bulan terakhir tidak terlihat aktivitas pekerja yang melakukan pemilahan maupun pengolahan sampah. Sampah dari beberapa desa masih diangkut menggunakan kendaraan roda tiga menuju tempat penampungan sementara, lalu diteruskan menggunakan truk ke Tempat Pembuangan Akhir di Renah Kayu Embun. Setelah tiba di lokasi tersebut, sampah disebut hanya ditumpuk tanpa proses pemilahan atau pengolahan yang berarti. Sejumlah sumber menyebutkan pekerja yang sebelumnya bertugas memilah sampah telah dirumahkan sehingga aktivitas pengolahan hampir tidak terlihat. Apabila kondisi ini benar dan berlangsung lama, maka tujuan utama TPS3R sebagai sistem pengurangan dan pengolahan sampah dari sumbernya dinilai tidak tercapai. Program yang seharusnya mengurangi volume sampah ke TPA justru terkesan hanya memindahkan lokasi penumpukan. TPS3R Kawasan dan TPST Disebut Minim Aktivitas Tidak hanya TPS3R skala desa, fasilitas TPS3R kawasan maupun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) juga dilaporkan minim aktivitas. Beberapa unit disebut tidak beroperasi maksimal bahkan nyaris tanpa kegiatan rutin. Kondisi ini memunculkan pertanyaan masyarakat mengenai efektivitas perencanaan, pengawasan, serta keberlanjutan program yang telah menyerap anggaran besar tersebut. Padahal, persoalan sampah di Kota Sungai Penuh hingga kini masih menjadi keluhan warga. Sampai berita ini ditulis, hanya sebagian kecil TPS3R skala desa yang dilaporkan masih beroperasi, sementara fasilitas lainnya belum menunjukkan kinerja optimal sesuai tujuan awal pembangunan. Komitmen Pimpinan Jadi Pertanyaan Sorotan juga mengarah kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Sungai Penuh, Wahyu Rama Dedy. Masyarakat mempertanyakan komitmen serta langkah nyata yang diambil untuk memastikan operasional TPS3R berjalan sesuai rencana. Program TPS3R sejatinya dirancang untuk mengurangi beban TPA, meningkatkan nilai ekonomi sampah melalui proses pemilahan, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Namun apabila fasilitas dan mesin yang sudah dibeli tidak dimanfaatkan secara optimal, potensi pemborosan anggaran menjadi perhatian serius. Upaya konfirmasi telah dilakukan dengan menghubungi Wahyu Rama Dedy melalui sambungan telepon untuk meminta klarifikasi terkait kondisi TPS3R dan TPA RKE, namun belum mendapat tanggapan. Hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan pernyataan resmi. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Sungai Penuh demi menghadirkan pemberitaan yang berimbang serta memberikan penjelasan menyeluruh kepada masyarakat. Di tengah meningkatnya volume sampah dan tuntutan pelayanan publik yang profesional, keberhasilan program TPS3R menjadi cerminan langsung kinerja pemerintah daerah dalam menangani persoalan lingkungan yang krusial. Masyarakat kini menunggu langkah konkret, bukan sekadar program yang hanya tertulis di atas kertas.

Baca Juga