JAMBI – Mata pencaharian para nelayan tradisional di , Kecamatan Kumpeh, , dikabarkan berada dalam kondisi memprihatinkan. Situasi ini diduga dipicu oleh pencemaran yang terjadi di kawasan .
Dampaknya tidak hanya dirasakan secara ekologis, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Dalam setahun terakhir, hasil tangkapan ikan dilaporkan merosot tajam hingga mencapai 80 persen.
Kondisi tersebut memaksa sebagian nelayan mencari alternatif pekerjaan demi menyambung hidup.
Ironisnya, Danau Sungai Rasau Besak sebenarnya menyimpan potensi alam yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata. Namun potensi tersebut belum tergarap optimal.
Air danau yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga kini tampak keruh dan mengalami pendangkalan. Kondisi itu diduga akibat kiriman air dari wilayah yang membawa limbah dan sampah.
Aman (50), nelayan setempat yang setiap pagi melaut, mengaku hasil tangkapannya merosot drastis. Jika sebelumnya sekali menjaring bisa memperoleh 10 hingga 20 kilogram ikan, kini ia kerap pulang hanya dengan 1 hingga 2 kilogram, bahkan tak jarang tanpa hasil.
“Dulu jaring selalu penuh. Sekarang seharian kadang cuma dapat sedikit, bahkan kosong. Ikan makin jarang, mungkin karena airnya sudah sangat kotor,” ujarnya.
Selain hasil tangkapan yang menurun, biaya operasional seperti bahan bakar perahu tidak lagi sebanding dengan pendapatan, sehingga sebagian nelayan terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Aman berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret menangani dugaan pencemaran tersebut agar masyarakat Rantau Panjang tidak kehilangan mata pencaharian tradisional mereka.
Fenomena ini menjadi gambaran memprihatinkan atas degradasi ekosistem perairan di Jambi yang berpotensi mengancam ketahanan pangan serta stabilitas sosial masyarakat setempat.
“Kami ingin kawasan ini dikenal luas, tapi juga dijaga agar tidak semakin rusak,” ungkap seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.
