Sering Diet Tinggi Protein? Hati-Hati 7 Dampak Ini Mengintai

Menu Atas

Sering Diet Tinggi Protein? Hati-Hati 7 Dampak Ini Mengintai

Portal Andalas
Rabu, 28 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Protein merupakan salah satu zat gizi utama yang berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh. Nutrisi ini dibutuhkan untuk pembentukan massa otot, perbaikan jaringan dan organ, serta membantu menjaga kekuatan tulang. Walaupun memiliki banyak manfaat, asupan protein tetap perlu dikonsumsi sesuai kebutuhan. Setiap orang memiliki kebutuhan protein harian yang berbeda-beda, tergantung usia, jenis kelamin, serta tingkat aktivitas fisik. Jika dikonsumsi secara berlebihan, protein justru dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan. Mengutip informasi dari laman WebMD, berikut sejumlah efek buruk akibat asupan protein yang berlebihan. 7 Dampak Negatif Konsumsi Protein Berlebihan 1. Berat badan meningkat Dalam waktu singkat, pola makan tinggi protein memang kerap dikaitkan dengan penurunan berat badan. Namun, jika dikonsumsi berlebihan, protein justru berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan. Hal ini terjadi karena kelebihan protein yang tidak digunakan tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak. Penelitian yang dimuat dalam Clinical Nutrition Journal tahun 2016 menyebutkan bahwa penggantian karbohidrat dengan protein dalam jangka panjang justru dapat memicu peningkatan berat badan. 2. Risiko dehidrasi Asupan protein yang melebihi kebutuhan harian juga dapat memengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan meningkatkan risiko dehidrasi. Beberapa studi menemukan bahwa atlet yang mengonsumsi protein dalam jumlah besar lebih rentan mengalami kondisi ini. Meski penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of the American Dietetic Association tahun 2006 menyatakan diet tinggi protein tidak menyebabkan dehidrasi pada pria sehat, menjaga kecukupan asupan cairan tetap menjadi hal yang penting. 3. Memperberat kerja ginjal Konsumsi protein berlebih dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal, terutama bagi individu yang memiliki riwayat penyakit ginjal. Studi dalam Journal of the American Society of Nephrology tahun 2020 menunjukkan bahwa diet tinggi protein dapat memperparah kondisi penderita penyakit ginjal kronis. Bagi orang dengan ginjal sehat, risiko ini cenderung lebih kecil, namun kewaspadaan tetap diperlukan agar tidak mengonsumsi protein secara berlebihan. 4. Gangguan pencernaan Pola makan tinggi protein yang membatasi karbohidrat umumnya rendah serat. Kondisi ini dapat memicu gangguan pencernaan, seperti sembelit. Selain itu, konsumsi berlebihan produk susu atau makanan olahan juga berisiko menyebabkan diare, terutama pada individu yang memiliki intoleransi laktosa. Makanan berlemak dan daging yang digoreng turut berpotensi memperparah masalah pencernaan. 5. Bau mulut Diet tinggi protein sering kali membatasi asupan karbohidrat, sehingga tubuh masuk ke kondisi metabolisme yang disebut ketosis. Proses ini menghasilkan senyawa kimia tertentu yang menimbulkan bau tidak sedap pada mulut. Bau mulut akibat kondisi ini cenderung sulit dihilangkan, meskipun kebersihan gigi dan mulut dijaga dengan baik. 6. Meningkatkan risiko kanker Sejumlah penelitian mengaitkan konsumsi protein tinggi yang bersumber dari daging merah dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, seperti kanker usus besar, payudara, dan prostat. Para peneliti menduga hal ini berkaitan dengan kandungan hormon, lemak, serta senyawa karsinogenik dalam daging merah. Sebagai alternatif, sumber protein seperti ikan dan kacang-kacangan dinilai lebih aman dan bahkan berhubungan dengan penurunan risiko kanker. 7. Penyakit jantung Diet tinggi protein yang didominasi daging merah dan produk susu tinggi lemak dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Tingginya asupan lemak jenuh dan kolesterol menjadi faktor pemicu gangguan kesehatan jantung. Sebuah studi pada 2010 menunjukkan bahwa konsumsi daging merah dan produk susu penuh lemak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada wanita. Sebaliknya, sumber protein seperti unggas, ikan, dan kacang-kacangan justru dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung.

Baca Juga