Mahasiswa dan Krisis Membaca: Literasi Jadi Masalah Serius?

Menu Atas

Mahasiswa dan Krisis Membaca: Literasi Jadi Masalah Serius?

Portal Andalas
Kamis, 22 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Mungkin ini sebuah ironi kecil yang patut direnungkan. Saya pernah membaca hasil riset tentang kemampuan membaca mahasiswa di perguruan tinggi swasta. Temuannya cukup mencemaskan: kemampuan mahasiswa dalam menangkap makna tersirat masih tergolong rendah. Bahkan, kemampuan mengidentifikasi gagasan utama dan detail pendukung dalam bacaan pun belum maksimal. Lebih jauh lagi, mahasiswa belum memiliki kebiasaan membaca yang baik, dengan durasi membaca kurang dari 60 menit per hari (Journal of Education Research, 2024). Saya pun bertanya-tanya dalam hati. Jika mahasiswa membaca kurang dari satu jam sehari, dari mana asal bahan obrolan mereka saat nongkrong di kafe atau tempat tongkrongan? Entahlah, mungkin hal itu justru perlu diteliti lebih lanjut. Bisa jadi, di era digital saat ini, aktivitas membaca bagi mahasiswa hanya terjadi secara kebetulan, bukan lagi menjadi kebutuhan. Ketika tanpa sengaja bertemu buku, barulah membaca. Pada titik ini, membaca masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi perguruan tinggi dan dunia literasi. Suatu sore, saat saya membaca buku di pinggir jalan Kota Semarang, muncul pertanyaan lain dalam benak saya. Apakah aktivitas membaca sudah sedemikian jauh ditinggalkan mahasiswa? Padahal, selama ini mahasiswa kerap dipersepsikan sebagai kaum intelektual yang dekat dengan buku. Namun, jika waktu membaca saja kurang dari 60 menit per hari, mungkinkah wawasan dan pengetahuan yang ideal dapat tercapai? Maaf jika terasa getir, tetapi realitas ini layak menjadi bahan perenungan bersama. Jangan-jangan, mahasiswa memang semakin menjauh dari bacaan dan mulai mengabaikan pentingnya membaca buku. Jika kita sejenak menoleh ke Leiden, Belanda, gambaran yang muncul sangat berbeda. Di kota tersebut, budaya membaca tumbuh kuat dan mengakar. Buku dihargai sebagai bagian penting dari kehidupan intelektual. Mahasiswa Leiden rajin membaca untuk memperdalam sejarah, humaniora, dan ilmu sosial. Perpustakaan menjadi pusat aktivitas akademik, sementara membaca di ruang publik adalah pemandangan yang lazim. Orang-orang membaca di kafe atau di tepi kanal, menikmati hidup sembari menyelami bacaan. Tradisi ini menciptakan harmoni antara kecintaan pada buku, kedalaman sejarah, dan atmosfer akademik yang santai namun intens. Sebaliknya, di banyak kota di negeri kita, membaca buku di ruang publik justru terasa janggal. Membaca di pinggir jalan bisa dianggap aneh, bahkan disalahartikan sebagai tanda stres. Tradisi membaca seolah tak lagi hidup. Padahal, kita sering lupa bahwa membaca adalah cara paling efektif untuk memperluas pengetahuan dan memperdalam wawasan. Dalam dunia literasi, fondasi utamanya adalah kebiasaan membaca di mana saja. Namun hingga kini, masih ada rasa sungkan untuk membaca di ruang publik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa minat baca mahasiswa Indonesia masih rendah dan kemampuan literasi pemahaman perlu ditingkatkan. Penyebabnya bukan semata karena gawai atau kesibukan. Masalah utamanya adalah kegagalan membiasakan diri membaca, enggan menyediakan waktu khusus untuk membaca, bahkan takut terlihat membaca di ruang publik. Semua ini seharusnya dimulai dari mahasiswa sebagai insan akademik. Kita kerap menyalahkan kurikulum, minimnya inovasi pembelajaran, atau lingkungan kampus yang kurang ramah literasi. Padahal, akar persoalannya sering kali ada pada diri kita sendiri, pada lemahnya motivasi internal dan kesadaran akan pentingnya membaca. Suka atau tidak, mahasiswa hari ini menghadapi persoalan literasi yang serius. Kemampuan membaca pemahaman masih rendah, durasi membaca sangat singkat—atau bahkan nyaris tidak ada—namun tetap disertai rasa percaya diri yang berlebihan. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa ada persoalan mendasar dalam budaya membaca mahasiswa Indonesia. Motivasi intrinsik bermasalah, diperparah oleh gaya hidup nongkrong, ketergantungan pada gawai, dan aktivitas media sosial yang membuat membaca hal-hal nonpraktis terasa melelahkan. Perlu dipahami bahwa membaca bukan sekadar melafalkan kata-kata. Membaca adalah proses kognitif untuk memahami, memaknai, dan menafsirkan informasi. Di dalamnya terdapat proses membangun makna atas teks dan realitas kehidupan. Aktivitas membaca melibatkan pengamatan, ingatan, pemahaman, hingga imajinasi. Melalui membaca, kita belajar berpikir jernih tanpa harus selalu diceramahi. Kita belajar memahami, memaknai, dan bertindak dengan lebih baik. Keliru jika mahasiswa memandang membaca hanya sebagai sarana memperoleh informasi. Membaca sejatinya adalah proses memahami sekaligus merefleksikan diri dan realitas kehidupan. Akan jauh lebih bermakna jika buku dijadikan bahan diskusi di kafe-kafe atau tempat tongkrongan. Dengan begitu, membaca menjadi aktivitas yang produktif dan bernilai, tidak semata demi pekerjaan atau cita-cita, tetapi sebagai jalan membangun kesadaran dan pemikiran. Jika mahasiswa berkenan, tentu saja. Salam literasi.

Baca Juga