Sungai Penuh – Menjelang satu tahun masa kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sungai Penuh, Alfin–Azhar, sebagian masyarakat menilai belum banyak perubahan nyata yang dirasakan di berbagai sektor. Sejumlah program pembangunan yang berjalan saat ini bahkan masih merupakan kelanjutan dari kebijakan pemerintahan sebelumnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan, aktivitas ekonomi di beberapa pasar tradisional belum mengalami peningkatan berarti. Para pedagang mengeluhkan kondisi pasar yang semakin sepi pembeli, sehingga berdampak langsung pada penurunan omzet harian.
“Sekarang pembeli makin jarang. Kadang seharian tidak seberapa dapatnya,” ujar salah seorang pedagang yang ditemui di pasar Kota Sungai Penuh.
Selain persoalan ekonomi pasar, masalah penataan parkir juga masih menjadi keluhan utama masyarakat. Parkir yang dinilai semrawut, ditambah maraknya pungutan liar (pungli), membuat warga enggan berbelanja ke pusat kota. Banyak pengendara mengaku kerap dimintai tarif parkir melebihi ketentuan yang tercantum dalam peraturan daerah (perda).
Sesuai perda, tarif parkir kendaraan roda dua seharusnya sebesar Rp1.000, namun di lapangan pengendara kerap diminta membayar Rp3.000. Sementara untuk kendaraan roda empat, tarif resmi Rp2.000, tetapi realitanya sering dipungut hingga Rp5.000.
“Setiap berhenti selalu diminta parkir, padahal jaraknya dekat. Tarifnya juga tidak sesuai aturan,” keluh seorang warga.
Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi minat masyarakat untuk beraktivitas dan berbelanja di Kota Sungai Penuh. Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan penertiban parkir, memberantas pungli, serta menghadirkan terobosan nyata agar roda perekonomian kembali menggeliat.
Menjelang genap satu tahun kepemimpinan Alfin–Azhar, masyarakat menunggu langkah konkret dan kebijakan yang mampu memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan dan kenyamanan warga Kota Sungai Penuh.
