Jarang Berbuah? Rahasia Petani Ini Bikin Pohon Duku Panen Deras Tiap Tahun

Menu Atas

Jarang Berbuah? Rahasia Petani Ini Bikin Pohon Duku Panen Deras Tiap Tahun

Portal Andalas
Sabtu, 31 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Pohon duku merupakan tanaman buah tropis yang memerlukan perawatan teratur agar mampu menghasilkan buah secara maksimal. Tak sedikit pemilik kebun mengeluhkan pohon yang tumbuh subur dan rimbun, tetapi jarang berbunga atau hanya menghasilkan sedikit buah. Padahal, jika memahami cara merangsang duku agar berbuah lebat, proses peralihan dari fase pertumbuhan vegetatif ke fase generatif bisa berlangsung lebih seimbang dan optimal. Hasil panen duku tidak semata-mata ditentukan oleh usia tanaman. Pola perawatan sejak awal penanaman, kondisi lingkungan, kualitas bibit, hingga manajemen pemupukan dan pengairan sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas buah yang dihasilkan. Berikut ini sejumlah langkah penting yang dirangkum Liputan6.com, Jumat (23/1/2026), yang dapat diterapkan agar pohon duku mampu berbuah lebih banyak dan konsisten. 1. Menanam di Waktu yang Tepat Waktu terbaik menanam duku adalah pada awal musim hujan, sekitar bulan Oktober hingga Desember. Pada periode ini, curah hujan berada di kisaran 150–300 mm per bulan, cukup untuk membantu pembentukan akar tanpa ketergantungan pada penyiraman intensif. Bibit yang ditanam saat musim kemarau cenderung mengalami stres dan pertumbuhan awalnya kurang optimal. Selain faktor air, suhu ideal pertumbuhan duku berada di rentang 25–32 derajat Celsius. Suhu ini mendukung proses metabolisme tanaman sehingga perkembangan akar, batang, dan daun berjalan seimbang. Fase awal pertumbuhan yang baik akan sangat menentukan kesiapan tanaman memasuki masa berbunga dan berbuah. 2. Memilih Bibit Unggul Bibit duku yang direkomendasikan berasal dari metode vegetatif seperti cangkok, okulasi, atau sambung pucuk. Jenis bibit ini umumnya sudah bisa berbuah pada usia 5–7 tahun, berbeda dengan bibit dari biji yang bisa memerlukan waktu lebih dari 10 tahun untuk berproduksi. Pilih bibit dengan tinggi sekitar 60–100 cm dan diameter batang minimal 1–1,5 cm. Daunnya harus berwarna hijau tua mengilap tanpa bercak penyakit, serta memiliki perakaran yang sehat dan tidak berbau busuk. Mengawali penanaman dengan bibit berkualitas merupakan kunci penting untuk produktivitas jangka panjang. 3. Menyesuaikan Komposisi Pupuk Pemupukan sebaiknya dilakukan secara rutin 2–3 kali dalam setahun. Untuk tanaman muda, pupuk kandang matang sebanyak 10–15 kg per pohon setiap enam bulan sudah mencukupi. Setelah tanaman berusia di atas lima tahun, dosis dapat ditingkatkan menjadi 20–30 kg per pohon. Untuk pupuk kimia, NPK 15-15-15 sebanyak 200–500 gram per pohon per tahun dapat diberikan dalam dua tahap aplikasi. Menjelang masa berbunga, kurangi unsur nitrogen dan perbanyak kalium dengan NPK 12-12-17 atau KCl sekitar 150–250 gram per pohon agar pembentukan bunga dan buah lebih optimal. 4. Mengatur Pola Penyiraman Duku memerlukan suplai air yang cukup, terutama saat musim kemarau. Penyiraman ideal dilakukan 2–3 kali per minggu dengan volume sekitar 20–30 liter per pohon, disesuaikan dengan umur dan ukuran tanaman. Kondisi tanah harus lembap, tetapi tidak tergenang. Menjelang masa berbunga, kestabilan air sangat penting agar bunga tidak mudah gugur. Setelah bunga muncul, intensitas penyiraman dapat sedikit dikurangi untuk membantu proses pembuahan. Manajemen air yang tepat sering kali menjadi faktor penentu keberhasilan pembuahan. 5. Rutin Melakukan Penyiangan Penyiangan sebaiknya dilakukan minimal sebulan sekali dengan radius 1–1,5 meter dari pangkal batang. Gulma yang dibiarkan tumbuh dapat menyerap hingga 30 persen nutrisi tanah, sehingga menghambat pertumbuhan dan produktivitas duku. Selain pencabutan manual, tanah dapat ditutup dengan mulsa jerami setebal 5–10 cm. Mulsa membantu menjaga kelembapan, menekan pertumbuhan gulma, serta memperbaiki struktur tanah secara alami. Perhatikan juga tanaman liar berakar tunggang yang tumbuh di sekitar pohon karena menyerap nutrisi dari lapisan tanah lebih dalam. Penyiangan sebaiknya dilakukan secara manual menggunakan alat kecil agar tidak merusak akar duku. Hindari penggunaan herbisida berlebihan karena dapat menurunkan kesuburan tanah dalam jangka panjang. 6. Pengendalian Hama dan Penyakit Hama yang sering menyerang duku antara lain penggerek batang, ulat daun, dan kutu putih. Serangan penggerek batang biasanya ditandai dengan lubang kecil serta serbuk kayu di batang. Jika tidak segera ditangani, aliran nutrisi akan terganggu dan produksi buah menurun. Penyakit yang perlu diwaspadai meliputi jamur akar dan bercak daun. Pemeriksaan tanaman sebaiknya dilakukan minimal dua minggu sekali. Gunakan pestisida nabati atau insektisida sesuai dosis jika serangan mulai muncul, dan hindari penggunaan bahan kimia berlebihan agar keseimbangan ekosistem kebun tetap terjaga. 7. Perawatan Pascapanen Setelah panen, lakukan pemangkasan ringan dengan memangkas sekitar 10–20 persen cabang tua, rusak, atau terlalu rimbun. Tujuannya untuk merangsang munculnya tunas baru yang akan menjadi calon bunga di musim berikutnya. Tambahkan pupuk organik dan lakukan penyiraman rutin selama 1–2 bulan setelah panen untuk memulihkan energi tanaman. Perawatan pascapanen yang konsisten menjadi penentu stabilitas produksi duku dari tahun ke tahun. Dengan perawatan yang terencana, konsisten, dan sesuai kebutuhan tanaman, pohon duku tidak hanya mampu berbuah lebih lebat, tetapi juga menghasilkan buah yang lebih sehat, seragam, dan berkualitas tinggi setiap musim panen.

Baca Juga