Portalandalas.com - Apakah Bunda sering memasukkan semangka ke dalam menu harian saat sedang menjalani program diet? Lalu, benarkah semangka efektif untuk membantu menurunkan berat badan? Untuk menjawabnya, mari kita simak penjelasan berdasarkan hasil studi dan pandangan para ahli.
Belakangan, semangka ramai dibicarakan di media sosial seiring munculnya tren diet ekstrem yang dikenal sebagai watermelon diet. Pola diet ini mengharuskan seseorang mengonsumsi semangka saja selama beberapa hari dengan klaim dapat menurunkan berat badan, meredakan peradangan, hingga membantu proses detoksifikasi tubuh.
Namun, apakah semangka benar-benar bisa menjadi solusi ampuh untuk diet sehat? Sejumlah ahli gizi menegaskan bahwa meskipun semangka tergolong rendah kalori serta kaya vitamin dan mineral, bukan berarti aman jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang.
Diet yang hanya mengandalkan semangka termasuk dalam kategori fad diet atau diet sesaat yang menjanjikan hasil instan. Pola makan semacam ini minim dukungan ilmiah dan berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
Mengacu pada Verywell Health, diet berbasis semangka saja dinilai tidak berkelanjutan dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Bahkan, pada kondisi tertentu, diet ini bisa menjadi sangat berisiko, terutama bagi individu dengan masalah kesehatan tertentu.
Hingga kini, belum ada penelitian yang mendukung klaim bahwa diet semangka efektif untuk menurunkan berat badan secara berkelanjutan. Para pakar sepakat bahwa keberhasilan diet tidak hanya bergantung pada pengurangan kalori secara drastis, melainkan pada pemenuhan gizi yang seimbang dari berbagai jenis makanan.
Lantas, bagaimana pandangan studi terbaru terkait tren diet semangka dan apa saja potensi risikonya? Berikut ulasannya, Bunda.
Apa itu diet semangka?
Diet semangka merupakan pola makan yang membatasi asupan hanya pada semangka selama periode tertentu, umumnya antara tiga hingga tujuh hari. Bahkan, ada pula yang mengaku menjalani diet ini hingga satu bulan penuh.
Dalam praktiknya, pelaku diet biasanya mengonsumsi satu buah semangka berukuran besar setiap hari tanpa tambahan makanan lain. Setelah fase yang kerap disebut sebagai “detoks”, seseorang bisa kembali ke pola makan normal atau secara bertahap menambahkan jenis makanan lain.
Ada pula variasi diet semangka yang masih memperbolehkan dua kali makan ringan per hari, disertai camilan semangka. Meski terdengar ringan dan menyegarkan, pola makan ini tetap membatasi asupan zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.
Kandungan gizi semangka
Semangka dikenal sebagai buah rendah kalori namun kaya nutrisi. Dalam satu cangkir semangka terkandung sekitar 46 kalori, disertai vitamin A, vitamin B1, vitamin B6, vitamin C, serta antioksidan seperti likopen dan asam amino sitrulin.
Kandungan airnya yang mencapai lebih dari 90 persen membantu menjaga hidrasi sekaligus memberikan efek kenyang. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa semangka berpotensi mengurangi stres oksidatif, menurunkan risiko penyakit jantung, serta mendukung pemulihan otot setelah berolahraga.
Sebuah studi pada tahun 2019 menemukan bahwa konsumsi semangka lebih efektif dalam membantu penurunan berat badan dibandingkan biskuit rendah lemak. Namun, manfaat tersebut diperoleh ketika semangka dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan sebagai satu-satunya sumber makanan.
Risiko dan bahaya diet semangka
Di balik kesederhanaannya, diet semangka menyimpan sejumlah risiko kesehatan. Pola diet ini dapat berbahaya, terutama bagi ibu hamil, penderita resistensi insulin, individu dalam masa pemulihan pasca operasi, serta mereka yang memiliki riwayat gangguan makan atau masalah kesehatan mental.
Efek samping lain yang mungkin muncul antara lain malnutrisi, gangguan ginjal, masalah pencernaan, diare, dehidrasi, hingga ketidakseimbangan elektrolit. Selain itu, diet semangka juga berpotensi meningkatkan kadar kortisol atau hormon stres, yang dapat memicu peradangan serta mengganggu kestabilan gula darah.
Studi tentang efektivitas diet semangka
Meskipun banyak testimoni beredar di media sosial, hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan efektivitas diet semangka sebagai metode penurunan berat badan jangka panjang. Sebagian besar studi hanya menunjukkan bahwa semangka dapat membantu mengendalikan nafsu makan, meningkatkan rasa kenyang, serta mengurangi keinginan makan berlebih.
Sebagai contoh, studi tahun 2020 menunjukkan bahwa penambahan semangka dalam pola diet antiinflamasi dapat membantu menurunkan persentase lemak tubuh dan indeks massa tubuh (BMI). Namun, penelitian tersebut tidak mengkaji diet semangka ekstrem, melainkan konsumsi semangka sebagai bagian dari diet yang seimbang.
Secara keseluruhan, semangka merupakan buah yang sehat, rendah kalori, dan kaya nutrisi. Meski demikian, menjadikannya sebagai satu-satunya sumber makanan dalam jangka panjang bukanlah pilihan yang bijak.
Para ahli gizi menekankan bahwa pola makan seimbang, aktivitas fisik yang teratur, serta waktu istirahat yang cukup jauh lebih aman dan efektif untuk menurunkan berat badan dibandingkan diet instan. Jadi, jika Bunda ingin menurunkan berat badan, semangka sebaiknya dikonsumsi sebagai camilan sehat yang menyegarkan, bukan sebagai menu utama sehari-hari 🍉

