Turnamen Walikota Cup pencak silat di Kota Sungai Penuh yang semula menjadi ajang kebanggaan kini berubah menjadi sorotan tajam setelah sejumlah juara kompetisi mengungkapkan ketidakpuasan atas tidak diserahkannya medali dan hadiah yang semestinya mereka terima. Kejadian ini memantik kekecewaan dari para atlet yang telah berjuang keras, tidak hanya demi prestasi pribadi tetapi juga untuk mengharumkan nama kota di arena olahraga regional. Ketidaktepatan pemberian penghargaan ini memperlihatkan kelemahan serius dalam manajemen kegiatan yang berujung merusak semangat para peserta.
Bukti dari minimnya perhatian pemerintah terhadap olahraga prestasi terasa jelas ketika publik melihat kurangnya dukungan alokasi anggaran dan fasilitasi untuk kegiatan olahraga berkelas seperti ini. Padahal, suksesnya sebuah turnamen tidak hanya berdampak langsung pada prestasi atlet, tetapi juga mendatangkan keuntungan besar bagi masyarakat kota. Kompetisi semacam Walikota Cup bisa menjadi magnet kunjungan, menarik atlet, pelatih, official, bahkan penikmat olahraga dari luar daerah untuk datang ke Sungai Penuh, yang secara tidak langsung meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
Di samping itu, intervensi pemerintah seharusnya mampu memberikan dukungan ekstra terhadap panitia ketika mereka kekurangan fasilitas hadiah atau medali, agar tidak sampai membuat kecewa para juara yang telah berlatih dan bertanding dengan penuh semangat. Penyelenggaraan event olahraga di kota ini seharusnya dilihat sebagai investasi jangka panjang yang dapat memperkuat city branding, meningkatkan kunjungan, serta membuka peluang sponsor dan kolaborasi dengan komunitas olahraga nasional dan internasional.
Ketidakpedulian dalam penyediaan penghargaan yang layak bahkan mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap kerja keras atlet lokal yang sejauh ini berusaha mengangkat nama Sungai Penuh melalui prestasi mereka. Imbasnya bukan hanya pada moral atlet, tetapi juga pada citra pemerintah kota sebagai pendukung olahraga yang kuat dan berkomitmen. Dalam jangka panjang, kegagalan memberi dukungan penuh ini bisa menghambat pertumbuhan olahraga prestasi di daerah dan melemahkan motivasi generasi muda yang bercita-cita menjadi atlet profesional.
Agar kedepannya turnamen seperti Walikota Cup bisa menjadi ajang yang tidak hanya diingat karena prestasi kompetitif, tetapi juga karena dukungan maksimal dari pemerintah daerah, Sungai Penuh perlu mengevaluasi dan memperbaiki sistem dukungan, pendanaan, dan penghargaan bagi atlet. Ini bukan sekadar urusan medali, tetapi tentang membangun ekosistem olahraga yang sehat, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi masyarakat luas.
fey
