Danau Kaco Kerinci Jadi Ruang Kontemplasi, Komunitas Tumbuh Bareng Ajak Jaga Alam

Menu Atas

Danau Kaco Kerinci Jadi Ruang Kontemplasi, Komunitas Tumbuh Bareng Ajak Jaga Alam

Portal Andalas
Rabu, 31 Desember 2025
Bagikan:

Portalandalas.com - KERINCI — Keindahan alam tak hanya memanjakan mata, tetapi juga mampu menyentuh batin terdalam manusia. Hal itulah yang dirasakan para anggota Komunitas Tumbuh Bareng saat menggelar kegiatan refleksi diri dan rihlah di Danau Kaco, salah satu destinasi alam ikonik di Kabupaten Kerinci, Jambi. Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut menjadi momentum penting bagi para peserta untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus merenungi kebesaran Tuhan melalui ciptaan-Nya yang luar biasa. Di tengah heningnya hutan dan jernihnya air Danau Kaco yang memantulkan cahaya alami, para peserta diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari. Ketua Komunitas Tumbuh Bareng menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah perjalanan batin. Danau Kaco dipilih karena memiliki energi alam yang kuat serta keindahan yang mampu mengajak siapa pun untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta. “Alam adalah ruang refleksi terbaik. Di sini kita belajar betapa kecilnya manusia dan betapa Maha Dahsyatnya Tuhan. Lewat rihlah ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa persaudaraan tidak hanya terjalin antar manusia, tetapi juga dengan alam itu sendiri,” ujarnya. Sejak pagi hari, rombongan komunitas berjalan menyusuri jalur hutan menuju Danau Kaco. Perjalanan yang cukup menguras tenaga justru menjadi sarana kebersamaan. Saling menyemangati, membantu, dan berbagi cerita membuat perjalanan terasa ringan meski medan yang ditempuh tidak mudah. Setibanya di lokasi, suasana syahdu langsung terasa. Air Danau Kaco yang jernih kebiruan seolah menjadi cermin alam, mengajak setiap peserta berkontemplasi. Kegiatan refleksi pun dimulai dengan sesi renungan, diskusi ringan, dan doa bersama. Para peserta diajak merenungkan peran manusia sebagai khalifah di bumi, yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan merawat alam. Dalam sesi refleksi tersebut, komunitas menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan pesan pelestarian lingkungan. Mereka sepakat bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan amanah yang harus dijaga demi generasi mendatang. “Kerusakan alam hari ini adalah akibat kelalaian manusia. Padahal, alam memberi kehidupan tanpa meminta balasan. Sudah seharusnya kita menjaganya, bukan merusaknya,” ungkap salah satu peserta dengan penuh harap. Selain refleksi, kegiatan rihlah juga diisi dengan diskusi tentang aksi nyata menjaga lingkungan. Mulai dari kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, hingga ikut terlibat dalam kegiatan edukasi lingkungan di masyarakat. Komunitas Tumbuh Bareng menilai bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil. Dengan menghadirkan kegiatan berbasis alam seperti ini, mereka berharap lahir individu-individu yang lebih peduli, berempati, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Danau Kaco sendiri dikenal sebagai salah satu permata tersembunyi Kerinci. Kejernihan airnya yang konon tetap bercahaya meski di malam hari menjadikannya simbol keajaiban alam yang patut dijaga. Keberadaan danau ini menjadi pengingat bahwa Kerinci memiliki kekayaan alam luar biasa yang tidak ternilai harganya. Menutup rangkaian kegiatan, para peserta melakukan deklarasi sederhana namun bermakna: menjaga alam, menjaga persaudaraan, dan terus bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik. Kegiatan pun ditutup dengan doa dan kebersamaan yang hangat, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Melalui refleksi dan rihlah di Danau Kaco, Komunitas Tumbuh Bareng kembali menegaskan pesan penting bahwa alam adalah guru kehidupan. Ia mengajarkan ketulusan, keseimbangan, dan kebesaran Tuhan. Sebuah pesan yang relevan di tengah tantangan kerusakan lingkungan yang kian nyata. “Jika alam rusak, manusia pun kehilangan rumahnya,” menjadi kalimat penutup yang menggema di antara pepohonan Danau Kaco—sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan itu sendiri.

Baca Juga