Pria Lebih Berisiko! Ini Fakta di Balik Mimpi Buruk dan Demensia

Menu Atas

Pria Lebih Berisiko! Ini Fakta di Balik Mimpi Buruk dan Demensia

Portal Andalas
Jumat, 10 April 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Sering terbangun di tengah malam akibat mimpi buruk ternyata tidak bisa dianggap sebagai gangguan tidur biasa. Penelitian terbaru mengungkap bahwa kondisi tersebut berpotensi menjadi tanda awal meningkatnya risiko demensia di masa depan. Hasil ini disampaikan oleh Abidemi Otaiku, seorang peneliti neurologi dari University of Birmingham, melalui publikasi ilmiah di jurnal eClinicalMedicine. Mimpi buruk dan kaitannya dengan kesehatan otak Otaiku menjelaskan bahwa manusia menghabiskan sekitar sepertiga hidupnya untuk tidur, dan sebagian waktu tersebut digunakan untuk bermimpi. Meski demikian, peran mimpi terhadap kesehatan otak masih belum sepenuhnya dipahami. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa mimpi bisa menjadi semacam “jendela awal” untuk melihat kondisi otak seseorang, terutama pada usia paruh baya hingga lanjut usia. Dalam studi yang berlangsung antara tahun 2002 hingga 2012, Otaiku menganalisis data dari tiga penelitian besar terkait penuaan dan kesehatan di Amerika Serikat. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 600 peserta berusia 35–64 tahun, serta sekitar 2.600 orang berusia 79 tahun ke atas. Seluruh partisipan tidak mengalami demensia pada awal penelitian. Para peserta diminta mengisi kuesioner, termasuk frekuensi mereka mengalami mimpi buruk atau mimpi yang sampai membuat terbangun di malam hari. Hasilnya menunjukkan bahwa individu paruh baya yang mengalami mimpi buruk setiap minggu memiliki risiko hingga empat kali lipat mengalami penurunan fungsi kognitif dalam kurun waktu 10 tahun berikutnya. Sementara itu, pada kelompok lansia, mereka yang rutin mengalami mimpi buruk mingguan memiliki risiko dua kali lebih besar untuk didiagnosis demensia. Risiko lebih tinggi pada pria Menariknya, hubungan antara mimpi buruk dan risiko demensia ditemukan lebih kuat pada pria dibandingkan perempuan. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pria lanjut usia yang mengalami mimpi buruk setiap minggu memiliki kemungkinan lima kali lebih tinggi mengalami demensia dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya. Sebaliknya, pada perempuan, peningkatan risiko yang tercatat relatif lebih kecil, yaitu sekitar 41 persen. Tanda awal atau pemicu? Menurut Otaiku, mimpi buruk yang terjadi secara berulang bisa menjadi salah satu indikator paling awal dari demensia, bahkan muncul jauh sebelum gangguan daya ingat terlihat secara nyata. Meski begitu, penelitian ini belum dapat memastikan apakah mimpi buruk merupakan penyebab langsung demensia atau hanya gejala awal dari perubahan yang terjadi di otak. Namun demikian, keterkaitan antara frekuensi mimpi buruk dan peningkatan risiko demensia tetap dinilai signifikan. Kabar baiknya, mimpi buruk termasuk kondisi yang bisa ditangani, baik melalui pendekatan medis maupun psikologis. Otaiku menjelaskan bahwa terapi yang digunakan untuk mengatasi mimpi buruk telah terbukti mampu mengurangi penumpukan protein abnormal di otak yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer. Selain itu, beberapa laporan kasus juga menunjukkan adanya peningkatan fungsi memori dan kemampuan berpikir setelah mimpi buruk berhasil dikendalikan. Peluang untuk deteksi dini Temuan ini membuka peluang baru dalam upaya mendeteksi demensia sejak dini, terutama melalui gejala gangguan tidur yang selama ini sering dianggap sepele. Mengatasi mimpi buruk tidak hanya berpotensi memperbaiki kualitas tidur, tetapi juga dapat membantu memperlambat penurunan fungsi kognitif. Ke depan, Otaiku berencana meneliti lebih lanjut apakah mimpi buruk yang terjadi pada usia muda juga berkaitan dengan risiko demensia di masa mendatang. Selain itu, ia juga ingin mengkaji aspek lain dari mimpi, seperti seberapa sering seseorang mengingat mimpinya atau seberapa jelas pengalaman mimpi tersebut, sebagai indikator tambahan kesehatan otak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai hubungan antara mimpi dan demensia, sekaligus membuka peluang intervensi lebih dini sebelum gangguan kognitif berkembang menjadi lebih serius.

Baca Juga