Portalandalas.com - Pada perempuan, kemampuan reproduksi umumnya mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Kondisi ini menjadi lebih terasa saat memasuki usia 35 tahun, di mana jumlah sel telur semakin berkurang dan kualitasnya juga menurun.
Hal inilah yang membuat banyak orang menilai bahwa peluang perempuan untuk hamil menjadi lebih kecil dibandingkan pria, yang secara biologis terus memproduksi sperma sepanjang hidupnya. Penurunan kualitas dan kuantitas sel telur ini dapat menyulitkan terjadinya kehamilan, sekaligus meningkatkan risiko komplikasi seperti keguguran maupun kelainan pada janin.
Meski begitu, tingkat kesuburan setiap individu berbeda-beda, sehingga peluang untuk hamil tetap ada. Lalu, apa saja faktor penyebabnya? Dan bagaimana cara mencegahnya bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan?
Berikut rangkuman informasi mengenai penyebab menurunnya kesuburan di usia 35 tahun:
### 1. Jumlah sel telur memengaruhi kesuburan
Seorang bayi perempuan lahir dengan sekitar 1–2 juta sel telur yang belum matang di dalam ovarium. Saat memasuki masa pubertas, jumlah tersebut menurun menjadi sekitar 300.000–500.000. Penurunan ini tidak hanya terjadi pada jumlah, tetapi juga kualitas sel telur.
Seiring bertambahnya usia, cadangan sel telur terus menyusut. Memasuki usia 30-an, jumlahnya semakin berkurang drastis. Usia 35 tahun sering disebut sebagai titik penting karena kualitas sel telur sudah mulai menurun signifikan, yang berdampak langsung pada tingkat kesuburan.
Walaupun demikian, perempuan usia 35 tahun ke atas masih memiliki peluang untuk hamil, hanya saja kemungkinannya lebih kecil dibandingkan usia yang lebih muda.
### 2. Tahapan penurunan kesuburan perempuan
Penurunan kesuburan tidak terjadi secara mendadak, melainkan berlangsung bertahap:
**Usia 20-an**
Ini merupakan masa paling subur bagi perempuan. Peluang kehamilan bisa mencapai sekitar 25% di setiap siklus menstruasi, sehingga kesempatan pembuahan berada pada puncaknya.
**Usia 30-an**
Kesuburan mulai menurun secara perlahan. Di awal usia 30-an, peluang hamil masih cukup baik. Namun memasuki pertengahan 30-an, penurunan kualitas dan jumlah sel telur terjadi lebih cepat. Usia 35 tahun sering dikategorikan sebagai fase kehamilan berisiko lebih tinggi. Menjelang akhir usia 30-an, peluang hamil semakin menurun dan menjadi fase yang cukup kritis.
**Usia 40-an**
Pada usia ini, kesuburan menurun cukup drastis. Cadangan sel telur sangat sedikit dan kualitasnya menurun. Peluang kehamilan tetap ada, tetapi jauh lebih kecil. Setelah usia 45 tahun, kehamilan menjadi sangat jarang terjadi, dan menopause umumnya berlangsung pada usia 50–51 tahun.
### 3. Stres juga berpengaruh
Stres merupakan hal yang wajar, namun jika berlebihan dan berlangsung lama, dapat mengganggu kesuburan. Hormon stres seperti kortisol bisa memengaruhi siklus menstruasi dan proses ovulasi.
Tekanan hidup, gaya hidup, hingga tuntutan dalam merencanakan keluarga dapat menjadi pemicu stres. Oleh karena itu, dukungan emosional dari pasangan sangat penting selama proses ini.
### 4. Risiko komplikasi kehamilan
Kehamilan di usia 35 tahun ke atas memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan hormon, kondisi fisik, serta kualitas sel telur yang menurun.
Beberapa risiko yang mungkin terjadi pada ibu antara lain diabetes gestasional, tekanan darah tinggi, dan gangguan pada plasenta. Sementara pada janin, risiko yang dapat muncul meliputi kelainan kromosom, keguguran, hingga berat badan lahir rendah.
Karena itu, perempuan yang berencana hamil di usia ini disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan.
### 5. Cara menjaga kesuburan
Bagi perempuan yang ingin merencanakan kehamilan di usia 35 tahun ke atas, beberapa langkah berikut dapat membantu:
* Menjaga berat badan ideal dengan rutin berolahraga
* Menghindari rokok karena berdampak buruk pada kesuburan
* Membatasi atau menghindari konsumsi alkohol
* Mengelola stres dengan baik
Pada akhirnya, keputusan untuk merencanakan kehamilan tetap berada di tangan pasangan. Yang terpenting, selalu lakukan konsultasi dengan tenaga medis agar mendapatkan arahan yang tepat sesuai kondisi masing-masing.

