Jangan Diabaikan! Ini 7 Tanda Anak Kurang Tidur yang Sering Tak Disadari Orang Tua

Menu Atas

Jangan Diabaikan! Ini 7 Tanda Anak Kurang Tidur yang Sering Tak Disadari Orang Tua

Portal Andalas
Rabu, 18 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Kurang tidur pada anak sering menjadi persoalan yang tidak selalu disadari oleh orang tua di rumah. Kondisi ini tidak selalu ditunjukkan dengan rasa kantuk berlebihan, melainkan lebih sering terlihat melalui perubahan perilaku, emosi, hingga kemampuan berpikir anak. Apalagi jika berlangsung terus-menerus, kurang tidur dapat mengubah pola aktivitas si kecil dan berdampak pada berbagai aspek, mulai dari kesehatan fisik, kestabilan emosi, daya tahan tubuh, hingga proses tumbuh kembang di masa depan. Mengacu pada informasi dari National Library of Medicine, kekurangan tidur berpotensi menimbulkan risiko masalah kesehatan jangka panjang pada anak. Berikut rangkuman tanda-tanda anak kurang tidur yang penting untuk dikenali. 1. Sulit bangun di pagi hari Bangun tidur mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi anak yang kurang tidur hal ini bisa menjadi tantangan. Mereka biasanya masih sangat mengantuk, tubuh terasa lemas, dan sulit membuka mata meski alarm sudah berbunyi. Menurut Dr. Judith A. Owens dari Harvard Medical School dan Boston Children’s Hospital, anak usia sekolah membutuhkan sekitar 9–11 jam tidur setiap malam, sedangkan remaja memerlukan 8–10 jam. Anak yang tidak memenuhi kebutuhan tidur tersebut berisiko mengalami gangguan perhatian, perilaku, kesulitan belajar, serta masalah suasana hati. Artinya, kebiasaan kurang tidur dapat memicu kelelahan kronis dan menurunkan prestasi akademik. 2. Mengantuk di siang hari Siang hari seharusnya menjadi waktu paling produktif bagi anak. Namun, pada anak yang kurang tidur, mereka justru tampak lesu, sering melamun, sulit fokus, bahkan bisa tertidur di tengah aktivitas. Hal ini terjadi karena otak tidak mendapat waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan fungsi kognitif, sehingga konsentrasi, daya ingat, dan kecepatan berpikir menurun. 3. Mudah marah dan mood berubah Kurang tidur juga sangat memengaruhi emosi anak. Mereka cenderung lebih sensitif, mudah marah, sering sedih, dan tampak lebih rewel tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini berkaitan dengan fungsi otak, khususnya bagian yang mengatur emosi seperti korteks prefrontal dan amigdala. Penelitian Dr. Matthew P. Walker dari University of California Berkeley menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan reaksi emosional sekaligus menurunkan kemampuan mengendalikan emosi. 4. Terlihat hiperaktif Pada beberapa anak, kurang tidur justru tidak terlihat sebagai kantuk, melainkan perilaku sangat aktif, sulit diam, banyak bicara, dan impulsif. Menurut Dr. William C. Dement dari Stanford University, anak yang mengalami sleep deprivation sering menunjukkan perilaku hiperaktif sebagai respons terhadap kelelahan. 5. Sulit berkonsentrasi Kesulitan fokus merupakan tanda yang paling umum. Anak menjadi mudah terdistraksi dan lambat memahami informasi, sehingga dapat mengganggu proses belajar di sekolah. Kurang tidur kronis diketahui meningkatkan risiko gangguan konsentrasi jangka panjang yang berdampak pada prestasi dan kepercayaan diri anak. 6. Lebih sering sakit Anak yang kurang tidur biasanya lebih mudah terserang penyakit seperti flu, batuk, dan infeksi ringan. Saat tidur, tubuh memproduksi sitokin yang membantu melawan infeksi. Jika waktu tidur kurang, produksi zat ini menurun sehingga daya tahan tubuh melemah. Akibatnya, anak lebih sering sakit dan membutuhkan waktu pemulihan lebih lama. 7. Penurunan kemampuan motorik Kurang tidur juga dapat memengaruhi koordinasi tubuh. Anak bisa tampak lebih ceroboh, sering menjatuhkan barang, mudah tersandung, dan lambat bereaksi. Gangguan ini tidak hanya memengaruhi aktivitas fisik, tetapi juga keterampilan belajar yang membutuhkan koordinasi tangan dan mata seperti menulis dan menggambar. Pentingnya tidur cukup bagi anak Memastikan anak mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan fisik, kestabilan emosi, serta mendukung tumbuh kembang yang optimal. Orang tua disarankan menciptakan suasana kamar yang nyaman dan membatasi penggunaan gawai sebelum tidur agar kualitas istirahat anak semakin baik.

Baca Juga