Hilal Masih di Bawah Ufuk! Lembaga Falakiyah PBNU Tetap Minta Rukyah Dilaksanakan

Menu Atas

Hilal Masih di Bawah Ufuk! Lembaga Falakiyah PBNU Tetap Minta Rukyah Dilaksanakan

Portal Andalas
Selasa, 17 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Lembaga Falakiyah PBNU mengimbau seluruh perukyah Nahdlatul Ulama di berbagai daerah agar melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1447 Hijriah pada Selasa Kliwon, 29 Sya’ban 1447 H atau bertepatan dengan 17 Februari 2026. Imbauan tersebut tertuang dalam surat resmi bernomor 127/PB.08/A.I.02.13/13/02/2026 yang ditandatangani Ketua LF PBNU, KH Sirril Wafa, dan Sekretaris LF PBNU, H Asmui Mansur, pada 15 Februari 2026. Dalam surat itu ditegaskan bahwa rukyatul hilal tetap perlu dilakukan sebagai bagian dari tradisi serta mekanisme penentuan awal bulan qamariah di lingkungan Nahdlatul Ulama. Rukyah Tetap Dilaksanakan Meski Hilal di Bawah Ufuk LF PBNU menjelaskan bahwa walaupun berdasarkan perhitungan hisab posisi hilal masih berada di bawah ufuk, pelaksanaan rukyat tetap dianjurkan dengan sejumlah pertimbangan. Pertama, pemerintah melalui Kementerian Agama RI akan menggelar sidang isbat untuk menentukan awal Ramadhan 1447 H. Kedua, merujuk pada keputusan Muktamar NU ke-20 di Surabaya. Ketiga, mengikuti hasil keputusan Muktamar NU ke-34 di Bandar Lampung. LF PBNU juga meminta seluruh hasil rukyatul hilal dilaporkan secara lengkap melalui formulir resmi yang telah disediakan sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan. Data Astronomis: Posisi Hilal Masih Negatif Berdasarkan perhitungan falak khas NU, pada 29 Sya’ban 1447 H (17 Februari 2026) tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk. Ketinggian tertinggi tercatat di Sabang sekitar minus 1 derajat 41 menit, sedangkan posisi terendah berada di Jayapura mencapai minus 3 derajat 12 menit. Di Jakarta, tepatnya di markaz Gedung PBNU Jalan Kramat Raya, tinggi hilal tercatat minus 1 derajat 44 menit 39 detik. Ijtimak atau konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.02.02 WIB berdasarkan metode falak tahqiqi tadqiki ashri yang digunakan kalangan NU. Sementara itu, BMKG juga merilis prakiraan hilal. Konjungsi disebut terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 19.01.07 WIB atau 12.01.07 UT, sehingga berlangsung setelah matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia. BMKG mencatat tinggi hilal berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat. Umur bulan saat matahari terbenam masih negatif, antara minus 3,07 jam hingga minus 0,16 jam, sehingga kriteria imkanur rukyah belum terpenuhi. Namun pada 18 Februari 2026, posisi hilal diproyeksikan sudah positif dengan ketinggian antara 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang. Potensi Istikmal 30 Hari Dengan posisi hilal yang masih berada di bawah ufuk pada 29 Sya’ban, besar kemungkinan bulan Sya’ban 1447 H akan disempurnakan menjadi 30 hari atau istikmal. Jika kondisi ini terjadi, maka 1 Ramadhan 1447 H berpotensi jatuh pada Kamis Pahing, 19 Februari 2026. Meski demikian, penetapan resmi awal Ramadhan tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah serta ikhbar resmi dari PBNU yang akan diumumkan pada malam 17 Februari 2026. Keputusan tersebut nantinya menjadi pedoman umat Islam di Indonesia dalam memulai ibadah puasa Ramadhan tahun ini.

Baca Juga