Portalandalas.com - Dalam sejarah Bumi, dinosaurus dikenal sebagai makhluk yang punah jutaan tahun lalu akibat tumbukan asteroid besar. Peristiwa dahsyat itu mengubah wajah planet ini secara drastis: hutan terbakar, tsunami melanda pesisir, dan lebih dari 80 persen kehidupan di Bumi musnah. Inilah salah satu peristiwa kepunahan massal paling terkenal, meski bukan satu-satunya yang pernah terjadi.
Sepanjang sejarahnya, Bumi diyakini telah mengalami setidaknya lima kali kepunahan massal, yang ditandai oleh perubahan lingkungan ekstrem. Menurut National Geographic, sebuah peristiwa disebut kepunahan massal jika sekitar 75 persen spesies punah dalam waktu relatif singkat. Bahkan, sebagian ilmuwan menyebut bahwa kini Bumi sedang menuju kepunahan massal berikutnya—yang dikenal sebagai Kepunahan Holosen.
Berbeda dari kepunahan sebelumnya yang dipicu bencana alam, kepunahan kali ini justru didorong oleh aktivitas manusia. Penelitian modern menunjukkan bahwa ekspansi manusia telah mengubah ekosistem global jauh sebelum peradaban modern berkembang. Bahkan pada awal Zaman Holosen, banyak megafauna seperti mammoth dan harimau bertaring tajam mulai punah, yang kini diyakini lebih disebabkan oleh aktivitas manusia daripada perubahan iklim semata.
Zaman Holosen dan Perubahan Peradaban
Zaman Holosen dimulai sekitar 11.700 tahun lalu, bersamaan dengan berakhirnya zaman es terakhir dan munculnya peradaban manusia. Pada periode ini, manusia mulai hidup menetap, bertani, membangun desa, dan membentuk peradaban. Sejak saat itu, manusia perlahan menjadi faktor dominan dalam perubahan ekosistem Bumi.
Laju Kepunahan yang Mengkhawatirkan
Secara alami, kepunahan memang bagian dari evolusi. Namun saat ini, laju kepunahan spesies diperkirakan meningkat hingga ribuan kali lipat dibandingkan kondisi normal. Para ilmuwan menilai bahwa kondisi ini mencerminkan krisis keanekaragaman hayati global yang serius.
Dodo: Simbol Kepunahan Akibat Manusia
Kepunahan burung dodo menjadi contoh nyata dampak ekspansi manusia. Dalam waktu kurang dari satu abad sejak kedatangan manusia Eropa di Mauritius, spesies ini punah akibat perburuan dan kerusakan habitat. Tragedi ini menjadi simbol betapa cepat manusia dapat memusnahkan satu spesies.
Kepunahan Massal Ketujuh
Kepunahan Holosen sering disebut sebagai kepunahan massal ketujuh. Peristiwa ini tidak hanya mengancam hewan dan tumbuhan, tetapi juga mikroorganisme dan seluruh sistem ekologi, baik di darat maupun laut. Aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan menjadi faktor utama: eksploitasi alam, perubahan iklim, polusi, dan perusakan habitat.
Efek Domino dalam Ekosistem
Kehilangan satu spesies dapat memicu efek berantai dalam ekosistem. Spesies puncak seperti gajah dan spesies kunci seperti lebah memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan alam. Jika mereka punah, dampaknya dapat merusak seluruh rantai kehidupan.
Manusia sebagai Penyebab Utama
Deforestasi, pertanian masif, polusi, perburuan liar, dan perubahan iklim menjadi penyebab utama krisis ekologi. Bahkan, beberapa tanaman penting seperti kopi dan cokelat diprediksi terancam punah akibat perubahan iklim. Sebagian kerusakan ekologis bahkan diperkirakan tidak bisa dipulihkan.
Abad ke-21 dan Krisis Global
Di era modern, emisi karbon meningkat drastis, konsumsi berlebihan semakin masif, dan eksploitasi sumber daya alam terus terjadi. Ketimpangan ekonomi dan sistem produksi global turut memperparah kerusakan lingkungan dan mempercepat kepunahan spesies.
Perdebatan Ilmiah
Meski ada perdebatan ilmiah tentang apakah kondisi saat ini benar-benar layak disebut kepunahan massal, para ilmuwan sepakat bahwa Bumi sedang mengalami krisis keanekaragaman hayati besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Munculnya Gerakan Lingkungan
Kondisi ini melahirkan berbagai organisasi dan gerakan lingkungan global, seperti Extinction Rebellion, yang mendorong perubahan kebijakan dan kesadaran kolektif untuk menyelamatkan Bumi.
Antroposen: Zaman Manusia
Sebagian ilmuwan menyebut era saat ini sebagai Zaman Antroposen, yaitu periode ketika aktivitas manusia menjadi faktor utama perubahan planet. Meski belum resmi secara geologis, istilah ini semakin luas digunakan dalam kajian ilmiah.
Masa Depan Bumi
Sejarah menunjukkan bahwa Bumi selalu mampu pulih dari kepunahan massal, tetapi prosesnya memakan waktu jutaan tahun. Dunia yang pulih pun tidak akan sama seperti sebelumnya. Jika Kepunahan Holosen terus berlangsung, kehidupan mungkin akan tetap ada, tetapi umat manusia bisa hidup di planet yang jauh lebih sunyi dan miskin keanekaragaman hayati.

