Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd | Sekretaris DPD PKS Kota Jambi
Semua paham, politik yang ideal itu adalah politik yang berbasis nilai. Politik yang memiliki indeks terbaik menurut para akademisi. Politik yang memperlihatkan pengabdian yang tulus untuk publik tanpa pamrih. Berkontribusi untuk kepentingan masyarakat dengan tidak mengharapkan imbalan. Harus ikhlas, mengharapkan ridho Allah SWT. Berkontribusi atas semangat kemanusiaan dan pengabdian, bukan untuk mencari keuntungan. Beginilah idealnya.
Namun realitanya, politik yang seperti ini seringkali terpinggirkan oleh politik realistis yang menawarkan keuntungan sesaat namun menggiurkan saat pemilu.
“Pak, aku memang tidak pernah muncul selama ini, tapi aku memberikan uang loh untuk bapak. Kalo dihitung-hitung, jumlahnya lebih banyak daripada yang pernah diberikan oleh politisi sebelumnya (yang idealis) . Memang, partai kami banyak yang terjerat korupsi. Tapi, dengan memilih saya, bapak lebih untung loh” ucap politisi realistis
Sementara itu, politisi idealis menawarkan sudut pandang yang lain.
“Pak, saya memang tidak memberikan uang kepada bapak selama ini. Tapi, kami selama ini sering membantu masyarakat di sekitar sini yang kesusahan. Ketika ada musibah, kami selalu hadir. Partai kami juga menyediakan program edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Bahkan menurut data, partai kami adalah partai yang anggotanya paling minim terjerat kasus korupsi. Anggota DPR dari partai kami juga dikenal kritis. Jadi, dengan memilih kami, berarti bapak berkontribusi untuk menghadirkan politik yang ideal untuk bangsa ini” ucap politisi idealis
Jika anda berada di posisi itu, anda akan memilih yang mana?
Inilah tantangan politisi kita saat ini. Terlalu idealis akan ditinggalkan, terlalu realistis pun akan disalahkan. Solusinya adalah dengan cara mengimbanginya. Sebab, mindset ideal memberikan arah untuk mencapai tujuan, sedangkan realistis merupakan metode untuk mencapainya.
Tan Malaka pernah menuliskan, “Cara mendapatkan hasil, lebih penting daripada hasil itu sendiri”
Lalu muncul pertanyaan berikutnya. Apa yang terjadi jika yang selama ini ideal tiba-tiba bertindak realistis?
Pastinya, mereka akan dihujat oleh netizen.
Lantas bagaimana menyikapinya?
Mari kita belajar dari Nabi Musa as. Bertahun-tahun menghilang karena telah melakukan pembunuhan terhadap salah satu pasukan Fir’aun, tiba-tiba muncul menyebutkan dirinya adalah nabi yang mulia, orang yang diutus oleh sang pencipta alam semesta ini, yakni Allah SWT. Ia mengkampanyekan kepada bani israil dan penduduk Mesir agar mempercayai ajakannya yang suci, namun dirinya memiliki cacat moral di masa lalu. Bagaimana sikap nabi Musa as pada saat itu?
Nabi Musa as mengabaikan olokan mereka, ia tetap berdakwah dan membuktikan bahwa apa yang ia bawa adalah kebenaran. Akhirnya, kebaikan-kebaikan yang ia lakukan menutupi kesalahan yang pernah ia lakukan. Padahal, kesalahan yang ia lakukan hanya sekali. Tapi, kesalahan itu menjadi satu-satunya senjata para pembencinya untuk menghentikan gerakan nabi Musa as.
Ali bin Abi Thalib ra yang merupakan sahabat sekaligus keponakan Rasulullah SAW pun juga pernah berada di posisi yang dilematis. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan ra, idealnya pada saat itu apakah mengadili pembunuh Utsman terlebih dahulu, atau menetapkan kepemimpinan umat? Ketika keputusan mayoritas telah bulat, memilih pemimpin lah yang mesti diutamakan, ternyata kelompok yang kontra pun bergejolak. Lantas, apa yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib? Menanggapi secukupnya, namun terus bergerak maju untuk memberikan pelayanan umat yang terbaik.
Contoh menyikapinya telah ada, namun apakah politisi idealis dianggap tepat oleh netizen atau anggota partainya melakukan hal ini? Jika tidak, lantas dengan pendekatan apa agar tujuan tetap tercapai namun tetap tidak menyalahi aturan? Perlu inovasi dan strategi yang realistis! Tidak mesti meniru strategi pragmatis politisi lain. Harus cerdas!
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan partai yang dikenal partai idealis, partai yang modal besarnya adalah kader yang militan, struktur yang solid dan amal jama’i yang kuat, semua potensi ini jika benar-benar dimaksimalkan untuk tujuan mendapatkan suara saat pemilu, maka ini bisa sangat-sangat powerfull. Apalah gunanya potensi jika tidak bisa dimanfaatkan?
Contoh sederhananya seperti ini, dengan jumlah kader yang mencapai ribuan orang, jika masing-masing mereka diminta berinfaq setiap harinya sebesar 2 ribu rupiah setiap bulannya, sehingga bisa membeli sembako rutin untuk 3 orang tetangganya, dengan penawarannya agar mereka nanti memilih PKS di saat pemilu, ditambah lagi jika disupport oleh struktur di tingkat daerah, cabang hingga ranting, lalu gerakan ini dilakukan secara bersama-sama, rutin dan serentak, maka gerakan ini akan menjadi efek kejut yang luar biasa. Apalagi jika sayap partainya juga ikut bergerak. Maka, pemilih yang real sudah pasti ada dan tinggal dibawa ke tempat pemungutan suara saat pemilu. Strateginya Realistis dan tanpa menghilangkan idealisme.
Ini adalah salah satu contoh. Tantangan berikutnya adalah bagaimanakah menyadarkan konsep ini ke semua anggota agar ini dipersepsikan sebagai strategi yang tepat? Dan apakah semuanya siap menerima? Jika tidak, apakah masih ingin menggunakan strategi gagal di pemilu sebelumnya?
