Portalandalas.com - Meski telah bergulat dengan krisis ekonomi sejak 2014, Venezuela sejatinya menyimpan kekayaan alam yang sangat besar. Kondisi ini menjadi ironi, mengingat negara dengan sumber daya melimpah tersebut justru terjerumus dalam krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan.
Venezuela berada di kawasan utara Amerika Selatan dan dikenal memiliki cadangan emas, bijih besi, serta minyak bumi dalam jumlah sangat besar—bahkan termasuk yang terbesar di dunia. Namun, kekayaan alam itu tidak dikelola secara optimal. Situasi tersebut diperparah oleh beban utang gagal bayar yang besar serta lemahnya tata kelola ekonomi.
Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), tingkat inflasi tahunan Venezuela pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 270 persen dan berpotensi melonjak melampaui 600 persen pada 2026.
Mengutip laporan USAToday, Venezuela tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, meskipun kualitas minyaknya dinilai masih berada di bawah standar rata-rata Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, potensi energi raksasa itu terhambat oleh berbagai faktor, mulai dari sanksi internasional, tekanan ekonomi, hingga keterbatasan teknologi dan minimnya modal investasi.
Tak hanya minyak, Venezuela juga memiliki kekayaan mineral yang melimpah. Meski status operasional tambang emas yang dikaitkan dengan pemerintahan Presiden Nicolás Maduro belum sepenuhnya transparan, Dewan Nasional untuk Ekonomi Produktif Venezuela melaporkan adanya peningkatan produksi emas, batu bara, dan bijih besi pada tiga kuartal pertama 2025. Namun, lembaga tersebut tidak merinci angka produksinya, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Kendati demikian, dalam kurun waktu satu dekade terakhir, produksi sebagian besar komoditas mineral Venezuela—termasuk nikel, bauksit, bijih besi, dan emas—mengalami penurunan cukup tajam.
Cadangan emas negara itu juga menyusut drastis karena digunakan pemerintah sebagai jaminan pinjaman, alat pelunasan utang, serta sumber devisa untuk menopang perekonomian di tengah krisis panjang dan tekanan sanksi Amerika Serikat.
Pekan lalu, Amerika Serikat dilaporkan berhasil menggulingkan pemerintahan Venezuela di bawah Presiden Nicolás Maduro. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negaranya akan memulihkan kembali aliran produksi minyak Venezuela dengan dukungan perusahaan-perusahaan energi global.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam konferensi pers usai operasi militer mendadak pada 3 Januari, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS.
Trump menilai penahanan Maduro membuka peluang bagi perusahaan minyak besar yang sebelumnya dilarang beroperasi untuk kembali mengakses cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.
Dalam kesempatan itu, Trump menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan di Venezuela akan membuka pintu bagi masuknya investasi asing, khususnya di sektor energi.
“Akan ada perusahaan-perusahaan minyak besar dari Amerika Serikat, terbesar di dunia, yang masuk dan menginvestasikan miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, lalu mulai menghasilkan pendapatan bagi negara tersebut,” kata Trump, seperti dikutip dari AFP.

