Harta Karun Sejarah Kerinci! Penelitian IAIN Ungkap Temuan Manuskrip Kuno

Menu Atas

Harta Karun Sejarah Kerinci! Penelitian IAIN Ungkap Temuan Manuskrip Kuno

Portal Andalas
Jumat, 23 Januari 2026
Bagikan:

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian Manuskrip Incung serta Perawatan Naskah Kuno pada Kamis (22/1/2026) di Aula LPPM IAIN Kerinci, Desa Sumur Gedang, Kecamatan Pesisir Bukit, Kota Sungai Penuh. Agenda ini menjadi wadah strategis untuk memperkenalkan temuan terbaru sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian manuskrip kuno Kerinci.
Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari riset manuskrip Incung yang dilakukan sepanjang 2024–2025 oleh tim peneliti di bawah pimpinan Hafiful Hadi Sunliensyar, M.A. Dari penelitian ini, berhasil ditemukan sejumlah manuskrip Incung baru yang sebelumnya belum pernah ditelaah secara ilmiah.
“Temuan ini sangat bernilai karena membuka perspektif baru dalam memahami tradisi tulis dan sejarah intelektual masyarakat Kerinci,” ungkap Hafiful dalam presentasinya. Ia menegaskan bahwa manuskrip Incung tidak hanya berfungsi sebagai benda warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang merekam nilai-nilai, hukum adat, hingga pandangan hidup masyarakat pada masa lampau.
Selain memaparkan hasil riset, forum ini juga mengangkat persoalan penting di lapangan, yaitu masih rendahnya pemahaman pemilik manuskrip terkait teknik penyimpanan dan perawatan naskah kuno. Banyak manuskrip disimpan tanpa perlindungan yang memadai sehingga rentan mengalami kerusakan akibat usia, kelembapan, maupun perlakuan yang kurang tepat.
Oleh sebab itu, peserta dibekali panduan praktis tentang cara merawat manuskrip secara sederhana dan aman, agar naskah tetap terpelihara tanpa memerlukan metode konservasi yang rumit maupun berbiaya tinggi.
Sebagai narasumber, Prof. Dr. Pramono, M.Hum., filolog Universitas Andalas sekaligus Ketua SURI, menekankan bahwa upaya pelestarian manuskrip merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, manuskrip adalah ingatan peradaban; ketika rusak atau hilang, sebagian identitas budaya juga ikut tergerus.
Kegiatan ini diikuti oleh para pemilik manuskrip, akademisi, perwakilan instansi terkait, komunitas budaya, serta masyarakat setempat. Antusiasme peserta tampak dari diskusi yang berlangsung aktif selama sesi pemaparan dan tanya jawab.
Panitia berharap, melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memahami kandungan manuskrip kuno Kerinci, tetapi juga memiliki kesadaran dan keterampilan dasar untuk merawatnya secara berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini ditargetkan menghasilkan dokumentasi dan publikasi di media massa guna memperluas dampak edukatifnya.
Acara ini digelar oleh IAIN Kerinci dengan penanggung jawab Faras Puji Azizah, M.Hum., serta Ketua Panitia Febrian dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kerinci. Diseminasi ini sekaligus menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam melestarikan dan menghidupkan kembali warisan intelektual lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Baca Juga