Diet Telur Rebus: Turun Berat Badan Cepat, Aman atau Berisiko?

Menu Atas

Diet Telur Rebus: Turun Berat Badan Cepat, Aman atau Berisiko?

Portal Andalas
Kamis, 08 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Diet telur rebus termasuk salah satu cara menurunkan berat badan yang cukup banyak diminati karena dinilai praktis dan cepat memberikan hasil. Sesuai dengan sebutannya, pola diet ini menjadikan telur rebus sebagai menu utama sehari-hari. Meski terdengar sederhana, muncul pertanyaan apakah metode ini benar-benar efektif sekaligus aman untuk dijalani. Untuk mengetahui jawabannya, berikut ulasan lengkap yang dirangkum dari Everyday Health, Healthline, dan Calo! Apa itu diet telur rebus? Diet telur rebus merupakan pola makan rendah karbohidrat dan rendah kalori yang berfokus pada konsumsi telur rebus sebagai sumber protein utama. Dalam penerapannya, seseorang dianjurkan mengonsumsi sekitar 2–3 butir telur rebus per hari, dipadukan dengan sayuran rendah karbohidrat serta beberapa jenis buah tertentu. Diet ini bahkan pernah disebut dijalani oleh sejumlah selebritas, salah satunya Nicole Kidman. Meski tampak mudah, diet telur rebus tergolong cukup ketat karena membatasi pilihan makanan. Umumnya, diet ini hanya dilakukan dalam jangka pendek, sekitar satu hingga dua minggu, untuk memperoleh penurunan berat badan secara cepat. Manfaat diet telur rebus Diet telur rebus menawarkan sejumlah manfaat yang berkaitan dengan kesehatan dan program penurunan berat badan, di antaranya: Tinggi protein dan rendah kalori, sehingga membantu menciptakan defisit kalori yang diperlukan untuk menurunkan berat badan. Memberikan rasa kenyang lebih lama, berkat kandungan protein pada telur. Mengandung nutrisi penting, seperti vitamin D, kolin, serta asam amino esensial. Praktis dan mudah disiapkan, karena tidak memerlukan bahan makanan yang sulit didapat. Meski demikian, belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan bahwa telur memiliki kemampuan khusus untuk membakar lemak lebih cepat dibandingkan makanan sehat lainnya. Cara menjalani diet telur rebus Berikut contoh pola makan yang biasa diterapkan dalam diet telur rebus: Sarapan: 2–3 telur rebus, sayuran seperti tomat, serta buah rendah karbohidrat seperti jeruk bali. Makan siang: Telur atau sumber protein tanpa lemak (ayam atau ikan) dengan sayuran hijau seperti bayam, brokoli, atau mentimun. Makan malam: Telur atau protein rendah lemak lainnya yang disajikan bersama salad sayuran. Makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi Selama menjalani diet ini, camilan di antara waktu makan tidak dianjurkan. Minuman yang diperbolehkan antara lain air putih, teh tanpa gula, dan kopi hitam. Berikut daftar makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi: Telur rebus Ayam tanpa kulit, ikan, dan daging tanpa lemak Sayuran non-tepung seperti bayam, kale, paprika, dan tomat Buah rendah karbohidrat, seperti beri, jeruk, dan lemon Minuman bebas kalori, seperti air putih, teh tawar, dan kopi tanpa tambahan susu Sementara itu, makanan yang sebaiknya dihindari meliputi: Karbohidrat tinggi seperti nasi, roti, dan pasta Sayuran bertepung seperti kentang dan jagung Buah dengan kadar gula tinggi, seperti pisang, mangga, dan buah kering Makanan olahan serta minuman manis Risiko diet telur rebus Walau menjanjikan penurunan berat badan dalam waktu singkat, diet telur rebus tergolong sangat membatasi asupan makanan. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain: Kekurangan serat, karena minimnya konsumsi biji-bijian dan kacang-kacangan, yang dapat memicu sembelit. Peningkatan kolesterol, mengingat satu butir telur mengandung sekitar 186 mg kolesterol. Meski tidak selalu berdampak buruk, penderita kolesterol tinggi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Ketidakseimbangan nutrisi, akibat pembatasan berbagai kelompok makanan penting, terutama jika diet dilakukan terlalu lama. Efek sementara, karena berat badan yang turun cepat berpotensi naik kembali jika tidak diikuti perubahan gaya hidup. Diet telur rebus dapat menjadi alternatif penurunan berat badan dalam jangka pendek. Namun, metode ini sebaiknya dilakukan dalam waktu terbatas dan dengan pendampingan ahli gizi, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Untuk hasil yang lebih berkelanjutan, menerapkan pola makan seimbang dan gaya hidup aktif tetap menjadi pilihan terbaik.

Baca Juga