Bukan Sekadar Komoditas! Kelapa Sawit Disebut Penopang Ekonomi Aceh, Sumut, dan Sumbar

Menu Atas

Bukan Sekadar Komoditas! Kelapa Sawit Disebut Penopang Ekonomi Aceh, Sumut, dan Sumbar

Portal Andalas
Jumat, 13 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com -

Portalandalas.com - Pengamat ekonomi pertanian, Diana Chalil, menegaskan bahwa pengembangan budidaya kelapa sawit di lahan yang sesuai merupakan kunci penting dalam mendorong pemulihan ekonomi pascabencana di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dibandingkan komoditas pertanian lainnya, sektor perkebunan sawit dinilai memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang lebih besar, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Menurut Diana, manfaat ekonomi dan lingkungan kini tidak selalu saling bertentangan. Ia mencontohkan pengalaman pascatsunami Aceh tahun 2004, di mana kelapa sawit justru menjadi pilihan utama para petani karena nilai ekonominya yang tinggi. Banyak perkebunan sawit rakyat lahir dari alih fungsi komoditas pertanian lain yang dinilai kurang menguntungkan. Diana, yang juga merupakan peneliti di Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSPO), menjelaskan bahwa baik dalam skala nasional maupun regional—khususnya di daerah yang terdampak bencana alam pada akhir tahun lalu—industri kelapa sawit memiliki peran yang sangat besar terhadap penguatan perekonomian. Oleh karena itu, ia menilai bahwa pengembangan budidaya sawit merupakan langkah paling efektif untuk mempercepat pemulihan ekonomi pascabencana. Ia mengungkapkan bahwa sektor pertanian menyumbang sekitar 73,83 persen dari total pendapatan devisa nasional, dan subsektor yang memberikan kontribusi terbesar berasal dari ekspor minyak kelapa sawit. Secara regional, Diana menambahkan bahwa sawit juga menjadi komoditas ekspor penyumbang devisa terbesar dari Aceh, sementara di Sumatra Utara, kelapa sawit menempati posisi ketiga sebagai penyumbang devisa terbesar. Dari sisi ketenagakerjaan, Diana menegaskan bahwa industri sawit secara nasional telah menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja pada tahun 2024, baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Jumlah tersebut bahkan belum mencakup tenaga kerja yang terserap di sektor hulu, hilir, serta jasa terkait dalam ekosistem dan sistem agribisnis kelapa sawit.

Baca Juga