Portalandalas.com - Rokok merupakan salah satu faktor risiko terbesar bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Dampaknya tidak hanya terbatas pada paru-paru, tetapi juga menyerang sistem kardiovaskular secara langsung. Kerusakan dimulai dari lapisan terdalam pembuluh darah yang disebut endotelium, yaitu permukaan halus yang memungkinkan darah mengalir lancar.
Setiap kali seseorang mengisap rokok, ribuan zat kimia berbahaya seperti karbon monoksida dan nikotin masuk ke aliran darah. Zat-zat ini merusak endotelium sehingga permukaannya menjadi tidak lagi mulus, melainkan lengket dan mudah ditempeli lemak serta kolesterol.
Kerusakan tersebut memicu aterosklerosis, yaitu proses penumpukan plak di dinding arteri yang membuat pembuluh darah menebal, mengeras, dan menyempit. Akibatnya, aliran darah ke seluruh tubuh—termasuk ke jantung melalui arteri koroner—menjadi terhambat. Kondisi ini memaksa jantung bekerja lebih keras, meningkatkan tekanan darah, dan pada akhirnya memperbesar risiko penyakit jantung koroner maupun serangan jantung.
Berikut penjelasan lebih rinci mengenai dampak rokok terhadap jantung, sebagaimana dijelaskan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
1. Merusak Pembuluh Darah
Merusak Lapisan Arteri
Zat kimia dalam asap rokok merusak endotelium, lapisan bagian dalam arteri. Ketika lapisan ini rusak, berbagai zat berbahaya lebih mudah menempel dan menumpuk.
Memicu Pembentukan Plak
Kerusakan arteri menyebabkan peradangan dan memicu penumpukan plak yang terdiri dari kolesterol, lemak, dan kalsium. Proses ini mempersempit dan mengeraskan arteri sehingga aliran darah terganggu.
Meningkatkan Kekakuan Pembuluh
Merokok juga membuat pembuluh darah kehilangan elastisitasnya, sehingga jantung harus memompa lebih kuat untuk mengalirkan darah.
2. Mengubah Komposisi Darah
Meningkatkan Kekentalan Darah
Bahan kimia rokok membuat darah lebih kental dan lengket, sehingga risiko terbentuknya gumpalan meningkat.
Meningkatkan Risiko Pembekuan
Dinding arteri yang rusak ditambah darah yang lebih kental memperbesar kemungkinan terbentuknya sumbatan yang dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke.
Mengurangi Pasokan Oksigen
Karbon monoksida dalam asap rokok berikatan dengan hemoglobin lebih kuat dibanding oksigen. Akibatnya, jumlah oksigen yang diangkut ke jantung dan organ lain berkurang, sehingga jantung harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
3. Meningkatkan Beban Kerja Jantung
Menaikkan Detak Jantung
Nikotin merangsang pelepasan adrenalin yang membuat detak jantung dan tekanan darah meningkat. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini membebani jantung.
Meningkatkan Tekanan Darah
Nikotin juga menyebabkan penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi), yang memicu tekanan darah tinggi—salah satu faktor utama penyakit jantung.
4. Memicu Gangguan Lain
Risiko Aritmia
Zat kimia dalam rokok dapat mengganggu sistem kelistrikan jantung, meningkatkan risiko detak jantung tidak teratur, termasuk fibrilasi atrium yang berpotensi menyebabkan stroke.
Memperparah Penyakit Jantung
Pada penderita penyakit jantung, merokok mempercepat perkembangan penyakit dan meningkatkan kemungkinan komplikasi fatal.
Kandungan Berbahaya dalam Asap Rokok
Asap rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, di antaranya:
Nikotin: zat adiktif yang meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.
Karbon monoksida: gas beracun yang mengurangi kemampuan darah membawa oksigen.
Tar: zat lengket yang merusak paru-paru dan turut merusak pembuluh darah.
Karsinogen: bahan penyebab kanker yang juga berdampak pada sistem kardiovaskular.
Oksidan: zat reaktif yang merusak sel jantung dan pembuluh darah.
Hal Penting yang Perlu Diketahui
Tidak ada batas aman dalam merokok. Bahkan konsumsi dalam jumlah kecil tetap dapat merusak jantung dan pembuluh darah. Paparan asap rokok sebagai perokok pasif pun membawa risiko serupa.
Berhenti merokok adalah langkah terbaik untuk menjaga kesehatan jantung. Risiko penyakit jantung mulai menurun segera setelah berhenti dan terus membaik seiring waktu.
Memahami bagaimana rokok merusak jantung diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan bahayanya dan mendorong lebih banyak orang untuk berhenti demi kesehatan yang lebih baik.

