Karakter Buku Ditebak Netizen, Aurelie Moeremans: Tolong Jangan Dibully

Menu Atas

Karakter Buku Ditebak Netizen, Aurelie Moeremans: Tolong Jangan Dibully

Portal Andalas
Minggu, 18 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Artis Aurelie Moeremans mengimbau masyarakat agar tidak melakukan perundungan terhadap tokoh-tokoh yang muncul dalam buku Broken Strings, terlebih jika sosok tersebut hanya berdasarkan dugaan atau spekulasi warganet. Seperti diketahui, Aurelie Moeremans belum lama ini meluncurkan buku memoar berjudul Broken Strings yang memuat kisah kelam hidupnya. Dalam buku tersebut, Aurelie secara terbuka mengisahkan pengalamannya terjebak dalam hubungan yang toxic dan manipulatif, termasuk peristiwa child grooming yang dialaminya sejak usia 15 tahun. Melalui buku itu, Aurelie mengungkap secara rinci tindakan pelaku grooming yang pernah menyakitinya. Ia juga menuturkan peran sejumlah karakter, baik yang sempat membantu pelaku maupun mereka yang akhirnya membantunya keluar dari lingkaran hubungan tidak sehat tersebut. Seiring viralnya Broken Strings, Aurelie kembali menegaskan permintaannya agar publik tidak menyerang atau membully karakter-karakter yang ada dalam bukunya, terutama jika identitas mereka masih sebatas asumsi. Pasalnya, belakangan ini banyak netizen yang menebak-nebak hingga melontarkan serangan kepada sosok tertentu, salah satunya karakter Kelly yang dikaitkan dengan figur bernama Kimberly. Permintaan tersebut disampaikan Aurelie melalui akun Threads miliknya, @aurelie, pada 16 Januari 2026. Dalam unggahan tersebut, ia secara khusus meminta warganet untuk tidak menyerang karakter seperti Kelly, Milo, Jo, Tom, maupun Zane. Aurelie menegaskan bahwa karakter-karakter tersebut belum tentu merepresentasikan sosok nyata. Ia pun mengaku merasa tidak nyaman dan tidak enak hati terhadap orang-orang yang menjadi sasaran serangan akibat asumsi yang berkembang. “Aku mau minta satu hal penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan,” tulisnya. Ia juga menambahkan bahwa banyak asumsi yang beredar belum tentu sesuai dengan kenyataan, dan hal tersebut membuatnya merasa tidak nyaman membacanya. Lebih lanjut, Aurelie menjelaskan bahwa tujuan utama penulisan buku tersebut bukan untuk menghakimi siapa pun. Ia hanya ingin pengalaman pahit yang pernah dialaminya bisa menjadi pembelajaran bagi banyak orang. Aurelie berharap tidak ada lagi orang lain yang harus mengalami hal serupa. Karena itu, ia turut membagikan proses dan cara dirinya bertahan serta bangkit dari masa-masa sulit tersebut. “Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok,” ujarnya. Menurut Aurelie, inti dari buku tersebut adalah tentang pengalaman, luka batin, serta proses penyembuhan yang ia ceritakan dengan penuh kejujuran. Meski demikian, Aurelie mengecualikan jika ada pihak yang secara sukarela mengaku sebagai karakter tertentu dalam buku tersebut. Ia menegaskan bahwa hal itu bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. “Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing. Kalian bebas berpendapat. Tapi kalau hanya menebak-nebak lalu menyerang, tolong jangan,” tegasnya. Sekali lagi, Aurelie menekankan bahwa Broken Strings tidak ditulis untuk menciptakan sasaran baru perundungan. Buku itu ia tulis dengan harapan dapat membuka mata, meningkatkan kesadaran, dan memberi kekuatan bagi mereka yang pernah berada dalam situasi serupa. “Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat dibully,” tulisnya. Ia pun menutup pesannya dengan ajakan untuk menjaga ruang diskusi yang aman dan penuh empati. “Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati,” pungkas Aurelie. Imbauan tersebut langsung mendapat respons luas dari warganet. Banyak yang menyatakan setuju dan mengapresiasi sikap Aurelie Moeremans yang dinilai bijak dan penuh empati.

Baca Juga