Tiba-Tiba Deg-Degan Padahal Santai? Ini Penyebab yang Jarang Disadari

Menu Atas

Tiba-Tiba Deg-Degan Padahal Santai? Ini Penyebab yang Jarang Disadari

Portal Andalas
Jumat, 20 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Pernah merasa jantung tiba-tiba berdegup kencang padahal kamu sedang santai atau tidak melakukan aktivitas berat? Tenang, jangan langsung panik. Kondisi seperti ini memang cukup sering dialami banyak orang. Namun, di sisi lain, hal tersebut juga bisa menjadi sinyal adanya gangguan tertentu dalam tubuh. Dalam istilah medis, detak jantung yang melebihi 100 kali per menit saat kondisi istirahat dikenal sebagai **tachycardia**. Berdasarkan penjelasan dari Mayo Clinic, jantung yang berdetak lebih cepat dari normal bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pola hidup, tekanan emosional, hingga kondisi medis tertentu. Secara umum, detak jantung normal saat istirahat pada orang dewasa berada di kisaran 60–100 kali per menit. Angka ini bisa berbeda tergantung usia, tingkat kebugaran, serta kondisi kesehatan masing-masing. Namun, jika detak jantung terasa cepat secara terus-menerus tanpa penyebab yang jelas, sudah saatnya kamu lebih peka terhadap kondisi tubuh. Untuk memahami lebih jauh, berikut penjelasan mengenai enam penyebab jantung berdebar cepat meski sedang tidak beraktivitas: **1. Stres, kecemasan, dan serangan panik** Saat kamu mengalami stres atau rasa cemas, tubuh akan melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol. Kedua hormon ini memicu respons “fight or flight”, yaitu kondisi siaga saat tubuh merasa terancam, sehingga detak jantung meningkat. Menurut American Heart Association, stres yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung (aritmia) jika tidak ditangani dengan baik. Gejala lain yang sering muncul antara lain sesak napas, tubuh gemetar, hingga rasa takut berlebihan. Untuk mengatasinya, kamu bisa mencoba teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, atau olahraga ringan seperti yoga. Istirahat yang cukup juga sangat membantu menstabilkan detak jantung. **2. Konsumsi kafein, nikotin, atau alkohol berlebihan** Minuman berkafein seperti kopi, teh, atau minuman energi memang bisa meningkatkan fokus. Namun, jika dikonsumsi berlebihan, kafein justru merangsang sistem saraf dan membuat jantung berdetak lebih cepat. Cleveland Clinic menyebutkan bahwa nikotin dari rokok dan alkohol juga dapat memicu peningkatan detak jantung, bahkan pada orang yang sehat. Bagi sebagian orang yang sensitif terhadap kafein, satu cangkir kopi saja sudah cukup menyebabkan jantung berdebar. Sebaiknya batasi konsumsi kafein maksimal 400 mg per hari (sekitar 3–4 cangkir kopi), hindari rokok, dan kurangi alkohol agar ritme jantung tetap stabil. **3. Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit** Kurangnya asupan cairan bisa berdampak besar pada tubuh, termasuk pada detak jantung. Air dan elektrolit seperti natrium, kalium, kalsium, dan magnesium berperan penting dalam menjaga kestabilan irama jantung. Saat tubuh kekurangan cairan, volume darah menurun sehingga jantung harus bekerja lebih keras dan berdetak lebih cepat untuk menjaga aliran darah. Gejala dehidrasi ringan biasanya berupa mulut kering, pusing, hingga jantung terasa berdebar. Pastikan kamu mencukupi kebutuhan cairan sekitar 2–3 liter per hari dan mengonsumsi makanan kaya elektrolit seperti pisang, alpukat, dan air kelapa. **4. Anemia atau kekurangan sel darah merah** Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Saat suplai oksigen menurun, jantung akan bekerja lebih keras dengan berdetak lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akibatnya, penderita anemia sering merasa lelah, pusing, dan jantung berdebar meskipun sedang beristirahat. Untuk mengatasinya, perbanyak konsumsi makanan tinggi zat besi seperti daging merah, hati, serta sayuran hijau, dan lengkapi dengan vitamin B12. **5. Hipertiroidisme (kelenjar tiroid terlalu aktif)** Kelenjar tiroid berperan dalam mengatur metabolisme tubuh melalui hormon tiroksin. Jika produksinya berlebihan, seperti pada hipertiroidisme, metabolisme tubuh meningkat dan detak jantung pun menjadi lebih cepat. Selain jantung berdebar, gejala lain yang bisa muncul adalah penurunan berat badan drastis, tangan gemetar, sering berkeringat, dan sulit tidur. Jika mengalami gejala ini, sebaiknya segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. **6. Gangguan irama jantung dan penyakit jantung lainnya** Jika detak jantung cepat disertai gejala seperti nyeri dada, pusing, sesak napas, atau sensasi jantung “meloncat”, ini bisa menjadi tanda gangguan irama jantung (aritmia). Beberapa kondisi seperti supraventricular tachycardia (SVT) atau atrial fibrillation (AFib) dapat menyebabkan jantung berdetak sangat cepat tanpa pemicu yang jelas. Bahkan, penyakit jantung koroner atau gagal jantung juga bisa menimbulkan gejala serupa. Segera cari pertolongan medis jika gejala tersebut muncul, terutama jika berlangsung lama atau semakin parah. **Kapan harus waspada?** Kamu perlu segera memeriksakan diri jika detak jantung cepat disertai: * Nyeri atau tekanan di dada * Sesak napas berat * Pusing ekstrem atau hampir pingsan * Jantung berdebar lebih dari 10 menit tanpa sebab jelas Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti aritmia kronis atau serangan jantung mendadak. **Cara sederhana menjaga detak jantung tetap normal** Beberapa langkah yang bisa kamu lakukan antara lain: * Tidur cukup 7–8 jam setiap malam * Rutin berolahraga dengan intensitas sedang * Mengurangi kafein, alkohol, dan rokok * Mengelola stres dengan baik * Mengonsumsi makanan sehat kaya nutrisi Pada akhirnya, detak jantung yang cepat saat sedang diam bisa disebabkan oleh hal sederhana seperti stres atau kelelahan, tetapi juga bisa menjadi tanda kondisi medis yang lebih serius. Memantau detak jantung secara rutin bisa membantu mendeteksi masalah sejak dini. Jika keluhan ini sering terjadi tanpa sebab yang jelas, jangan diabaikan dan segera konsultasikan ke tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat. Semoga informasi ini bermanfaat!

Baca Juga