Anak Muda Wajib Tahu! Cara Tetap Happy Tanpa Mengorbankan Masa Depan

Menu Atas

Anak Muda Wajib Tahu! Cara Tetap Happy Tanpa Mengorbankan Masa Depan

Portal Andalas
Jumat, 20 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - “Anak muda sekarang susah punya rumah, soalnya uangnya habis buat ngopi.” “Bulan ini konser idol A, bulan depan festival musik B. Yuk mulai nabung!” “Akhir bulan healing dulu, anggap saja self-reward setelah capek kerja.” Kalimat-kalimat seperti itu pasti sudah sering terdengar. Menikmati kopi favorit, menghadiri konser idola, atau sekadar refreshing di akhir pekan kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Di media sosial, kebiasaan ini kerap dianggap sebagai bentuk *living in the moment*, yakni menikmati hidup sepenuhnya di masa kini. Namun di balik itu, muncul pertanyaan penting: bagaimana cara menikmati hidup tanpa mengorbankan rasa aman di masa depan? Dalam membahas fenomena ini, POPBELA mewawancarai Chief Health Officer AXA Financial Indonesia, Yudhistira Dharmawata. Ia menilai bahwa menikmati hidup dan merencanakan masa depan bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru, keduanya perlu berjalan seimbang agar hidup terasa lebih tenang dan terarah. Lalu, bagaimana cara menemukan keseimbangan tersebut? **Living in the Moment Bukan Berarti Abaikan Masa Depan** Gaya hidup santai generasi muda dalam hal keuangan bukan berarti mereka tidak peduli terhadap masa depan. Banyak yang sebenarnya sudah sadar pentingnya perencanaan finansial, hanya saja belum diwujudkan dalam tindakan nyata. Yudhistira mengungkapkan, berdasarkan survei KOMPAS, sekitar 90% masyarakat belum siap menghadapi masa pensiun. Sementara survei Populix 2023–2024 menunjukkan 73% responden menganggap asuransi itu penting, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar memilikinya. Ini menunjukkan adanya kesadaran, namun belum diikuti aksi konkret. Padahal, perencanaan keuangan bukan berarti harus menahan semua kesenangan, melainkan mengatur prioritas dengan lebih bijak agar risiko di masa depan bisa diminimalkan. Menurutnya, kesadaran menabung dan berinvestasi di kalangan anak muda sudah cukup baik. Investasi kini tidak lagi sekadar menyimpan uang di bank, tetapi juga mengembangkannya sesuai tujuan finansial. Namun, untuk aspek proteksi seperti asuransi, masih banyak yang belum memahami pentingnya. **Pentingnya Perencanaan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi** Jika dulu krisis ekonomi terasa jarang terjadi, kini kondisi global menunjukkan hal sebaliknya. Dalam satu dekade terakhir, berbagai krisis terus bermunculan, mulai dari krisis finansial hingga pandemi. Situasi ini membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi semakin krusial, tidak hanya untuk pensiun, tetapi juga pendidikan, perlindungan keluarga, hingga warisan. Tanpa perencanaan yang matang, risiko tak terduga bisa dengan mudah menggagalkan target finansial. Yudhistira menekankan pentingnya memiliki *buffer* atau cadangan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Proteksi seperti asuransi menjadi salah satu cara untuk menjaga stabilitas keuangan saat kondisi tidak terduga terjadi. Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah memiliki asuransi kesehatan. Dengan begitu, biaya pengobatan tidak akan mengganggu tabungan atau arus kas yang sudah direncanakan. **Mulai dari yang Ideal, Jalankan Secara Realistis** Kesalahan umum dalam mengatur keuangan adalah menunggu kondisi sempurna sebelum memulai. Padahal, perencanaan justru perlu dimulai dari sekarang, meskipun secara sederhana. Menentukan persentase tabungan dari penghasilan, memulai investasi kecil, atau memilih proteksi sesuai kemampuan sudah menjadi langkah awal yang penting. Seiring waktu, rencana tersebut bisa disesuaikan dengan peningkatan pendapatan. Yudhistira menyarankan untuk mulai menyisihkan sekitar 20% dari gaji untuk ditabung atau diinvestasikan. Kunci utamanya adalah konsistensi, bukan besar kecilnya nominal di awal. Setelah itu, barulah mempertimbangkan proteksi seperti asuransi yang sesuai dengan anggaran. Saat ini, banyak pilihan asuransi dengan harga terjangkau yang bisa menjadi langkah awal perlindungan. **Menunda Kesenangan Bukan Berarti Kehilangan Kebahagiaan** Menikmati hidup tetap penting. Nongkrong, nonton konser, atau membeli kopi favorit bukan hal yang harus dihilangkan sepenuhnya. Yang perlu dilakukan adalah mengatur frekuensi dan prioritasnya. Konsep *delayed gratification* atau menunda kesenangan sesaat bisa menjadi solusi. Misalnya, jika sebelumnya menonton konser setiap bulan, bisa dikurangi menjadi beberapa kali dalam setahun agar tujuan finansial tetap tercapai. Membuat anggaran untuk kebutuhan tersier juga penting, baik dari segi jumlah maupun frekuensi. Dengan begitu, kesenangan tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu kondisi keuangan. **Financial Wellness sebagai Gaya Hidup** Pada akhirnya, perencanaan keuangan bukan hanya soal angka, tetapi tentang rasa aman dan kualitas hidup. *Financial wellness* bisa menjadi bagian dari gaya hidup modern, layaknya menjaga kesehatan fisik dan mental. Saat ini, kesadaran akan pentingnya asuransi kesehatan mulai meningkat, terutama setelah pandemi. Meski anggaran terbatas, memiliki proteksi dasar tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Menata keuangan sejak dini bukan berarti hidup menjadi kaku. Sebaliknya, dengan perencanaan yang baik, seseorang justru bisa menikmati hidup dengan lebih tenang karena masa depan sudah dipersiapkan.

Baca Juga