Misteri Lubang Raksasa di Sumbar Terungkap! Ini Fakta Ilmiahnya

Menu Atas

Misteri Lubang Raksasa di Sumbar Terungkap! Ini Fakta Ilmiahnya

Portal Andalas
Selasa, 03 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Badan Geologi mengungkap fakta menarik terkait fenomena sinkhole atau lubang amblesan yang muncul di Nagari Situjuah Batua, Sumatera Barat, berdasarkan hasil peninjauan cepat lapangan pada 9–11 Januari 2026 serta analisis laboratorium. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa sinkhole tersebut terjadi pada batuan kars semu atau pseudokarst. Karena karakteristiknya yang tidak biasa, fenomena ini kemudian diberi nama Sinkhole Situjuah. Keunikan sinkhole ini terletak pada lokasi pembentukannya yang berada di material vulkanik atau endapan gunung api, bukan pada batu gamping (kars) seperti yang umumnya terjadi. Ditemukan pula adanya aliran sungai bawah tanah yang membentuk rongga di dalam material vulkanik berupa tuf lapili. Lana menjelaskan bahwa proses utama terbentuknya sinkhole ini dipicu oleh erosi buluh, yaitu erosi internal yang secara perlahan mengikis partikel tanah dan membentuk saluran alami menyerupai pipa. Di dalam lubang sinkhole juga tampak genangan air berwarna kebiruan, yang dalam bentang alam kars dikenal sebagai cenote, dengan tingkat keasaman air tergolong agak asam hingga netral. Faktor utama penyebab Sinkhole Situjuah adalah suplai air yang sangat besar dari curah hujan dan air tanah yang terus-menerus mengikis lapisan tanah dari dalam. Jenis tanah berupa tuf atau abu vulkanik yang mudah tererosi semakin mempercepat proses tersebut. Selain itu, adanya jalur retakan di dalam tanah mempercepat terbentuknya rongga, hingga tekanan di bawah permukaan tidak lagi mampu menopang beban tanah di atasnya. Secara geologis, proses terbentuknya sinkhole diawali oleh pengendapan material vulkanik di atas lapisan lapili tuf. Seiring waktu, terjadi erosi internal pada alur sungai lama yang membentuk rongga sungai bawah tanah yang terus membesar. Bersamaan dengan itu, terbentuk retakan vertikal dari permukaan tanah yang akhirnya terhubung langsung dengan sungai bawah tanah. Kombinasi faktor air, kondisi litologi, dan instabilitas struktur tanah mempercepat terbentuknya sinkhole. Badan Geologi memperkirakan Sinkhole Situjuah masih berpotensi melebar, terutama ke arah tenggara–barat laut. Saat ini, jarak aman sementara ditetapkan sejauh 17 meter ke arah barat daya–timur laut dan 30 meter ke arah tenggara–barat laut. Kemunculan sinkhole baru juga masih memungkinkan, meskipun bersifat lokal dan tidak masif. Wilayah Nagari Situjuah Batua dan Nagari Tungka di sisi barat daya dinilai lebih rentan dibanding wilayah timur laut. Sinkhole ini muncul di area persawahan Jorong Tanah Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, pada Minggu, 4 Januari 2026 sekitar pukul 11.00 WIB, dengan diameter sekitar 10 meter dan kedalaman 7 meter, disertai genangan air. Badan Geologi merekomendasikan pemetaan rinci jalur berpotensi sinkhole menggunakan pendekatan geofisika seperti geolistrik, georadar, hidrogeologi, dan geologi teknik. Penanganan dapat dilakukan dengan membiarkan lubang tetap terbuka disertai perhitungan kestabilan struktur dan radius aman secara detail, serta mengatur aliran air agar dialirkan keluar melalui drainase menuju area stabil seperti sungai hilir. Air tersebut juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku warga setelah melalui kajian kelayakan kualitas air. Alternatif lain adalah penguatan tebing dengan rekayasa teknis oleh ahli teknik sipil untuk mencegah pelebaran lubang, serta pengaturan debit air sungai bawah tanah agar tidak mengganggu kestabilan wilayah hulu dan hilir. Upaya mitigasi jangka panjang meliputi pengenalan gejala awal sinkhole, pengurangan infiltrasi air berlebihan ke dalam tanah, pemilihan jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air di area rawan, serta memastikan saluran air rumah tangga tidak meresap ke tanah berisiko. Lana juga menyebut bahwa Sinkhole Situjuah berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi geologi, dengan syarat keamanan lokasi terjamin, terdapat pengaturan jarak aman bagi pengunjung, serta edukasi publik tentang fenomena geologi. Badan Geologi menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu mempercayai isu mistis terkait air sinkhole. Hasil uji laboratorium menunjukkan air tersebut sama seperti air pada umumnya. Warna biru pada air merupakan fenomena alam akibat hamburan cahaya oleh partikel-partikel kecil atau zat terlarut di dalam air, bukan karena faktor mistis atau khasiat khusus.

Baca Juga