Portalandalas.com - Di hamparan gurun Arab Saudi yang tampak lengang dan nyaris tak bernyawa, terdapat satu objek yang kerap membuat siapa pun berhenti melangkah—bahkan sebelum sempat mengangkat kamera. Sekitar 50 kilometer di selatan Oasis Tayma, berdiri sebuah batu raksasa berdiameter kurang lebih sembilan meter yang dikenal dengan nama Al Naslaa.
Sekilas, Al Naslaa tampak seperti bongkahan batu biasa. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada kejanggalan yang menjadikannya salah satu formasi geologi paling membingungkan di dunia. Batu ini terbelah tepat di tengah dengan garis pemisah yang hampir sepenuhnya lurus, seolah dibelah menggunakan alat berteknologi tinggi. Yang lebih mencengangkan, kedua bagian batu tersebut tetap berdiri kokoh di atas dua penyangga alami yang terlihat nyaris simetris, memberi kesan seakan melayang.
Keunikan ini memicu berbagai spekulasi, mulai dari campur tangan makhluk luar angkasa hingga dugaan penggunaan teknologi kuno. Meski demikian, para ilmuwan cenderung memandang Al Naslaa sebagai fenomena alam yang terbentuk melalui proses geologi, meskipun hingga kini belum ada penjelasan yang benar-benar final.
Lebih dari Sekadar Batu: Situs Petroglyph Kuno
Keistimewaan Al Naslaa tidak hanya terletak pada bentuknya. Permukaan batu ini juga menyimpan ukiran-ukiran kuno berupa petroglyph, yakni gambar atau simbol yang dipahat langsung pada batu.
Ukiran tersebut menampilkan berbagai figur, seperti kuda Arab, ibex atau kambing gunung, serta sosok manusia. Waktu pembuatannya memang belum dapat dipastikan, namun mengingat Al Naslaa tersusun dari batu pasir yang diperkirakan berusia ribuan tahun, situs ini diyakini memiliki nilai sejarah tinggi. Tak berlebihan jika Al Naslaa disebut sebagai salah satu petroglyph paling ikonik dan fotogenik di dunia.
Misteri Retakan yang Terlalu Sempurna
Pertanyaan terbesar yang selalu muncul adalah bagaimana batu ini bisa terbelah dengan begitu rapi dan presisi.
Sejumlah teori dikemukakan oleh para ahli, tanpa ada satu pun yang sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan teori lain. Hal ini wajar, mengingat formasi geologi umumnya terbentuk melalui rangkaian proses panjang yang saling berkaitan.
Pertama, ada dugaan bahwa Al Naslaa berada tepat di jalur patahan geologi. Pergerakan tanah dapat menyebabkan batu retak di titik terlemahnya. Seiring waktu, celah tersebut kemudian “dipoles” oleh angin gurun yang membawa pasir, bekerja seperti amplas alami selama ribuan tahun hingga menghasilkan permukaan yang halus dan lurus.
Kedua, retakan tersebut bisa merupakan fenomena geologi yang disebut joint, yaitu celah alami pada batuan tanpa adanya pergeseran antarbagian. Joint memang kerap terbentuk lurus, namun jarang menghasilkan pembelahan setegas dan sebersih yang terlihat pada Al Naslaa.
Peran Cuaca dan Pelapukan Alam
Teori lain berkaitan dengan proses pelapukan akibat siklus beku dan cair (freeze-thaw weathering). Air yang meresap ke dalam celah batu akan membeku saat suhu turun, mengembang, lalu mencair kembali ketika suhu naik. Siklus berulang ini dapat memperlebar retakan secara perlahan hingga batu akhirnya terbelah.
Meski wilayah gurun saat ini dikenal panas, sebagian peneliti berpendapat bahwa pada masa lalu, daerah tersebut mungkin mengalami kondisi iklim yang memungkinkan terjadinya perubahan suhu ekstrem.
Mengapa Batu Itu Bertumpu pada Penyangga?
Selain belahannya yang nyaris sempurna, banyak orang juga penasaran dengan bentuk Al Naslaa yang berdiri di atas dua pedestal kecil.
Dalam kajian geomorfologi gurun, formasi seperti ini sebenarnya cukup lazim dan dikenal sebagai mushroom rock atau batu jamur. Angin yang membawa pasir cenderung lebih kuat di dekat permukaan tanah, sehingga bagian bawah batu terkikis lebih cepat dibanding bagian atas. Akibatnya, terbentuk semacam “leher” yang membuat batu tampak bertengger di atas penyangga.
Apakah Ada Campur Tangan Manusia?
Karena tersusun dari sandstone yang relatif lunak, muncul pula dugaan bahwa batu ini mungkin pernah dibelah oleh manusia dengan alat sederhana. Jika benar, tujuan pembelahannya pun menjadi tanda tanya—apakah sebagai penanda wilayah, bagian dari ritual, atau sekadar karya seni.
Namun hingga kini, belum ditemukan bukti kuat yang memastikan bahwa retakan tersebut adalah hasil rekayasa manusia. Meski demikian, keberadaan petroglyph membuktikan bahwa manusia memang pernah berinteraksi langsung dengan batu ini.
Misteri yang Masih Terbuka
Hingga saat ini, belum ada kesepakatan tunggal mengenai penyebab terbelahnya Al Naslaa. Kemungkinan besar, formasi unik ini merupakan hasil gabungan dari retakan alami, proses pelapukan jangka panjang, erosi pasir gurun, serta perubahan iklim yang berlangsung selama ribuan tahun.
Daya tarik Al Naslaa justru terletak pada “ketidakwajarannya”: terlalu rapi untuk sepenuhnya dianggap kebetulan alam, namun terlalu sulit dibuktikan sebagai hasil karya manusia.
Yang pasti, Al Naslaa menjadi bukti nyata bagaimana alam dan waktu mampu menciptakan bentuk-bentuk yang tampak nyaris mustahil—ditambah jejak manusia yang memperkaya kisah di balik sebuah fenomena geologi.

